Jumat, 16 Desember 2016

Relasi Agama Dan Budaya


“Musibah yang mendekatkanmu pada Allah lebih baik dariNikmat yang menjauhkanmu dari Allah.”[Ustadz Abu Zubair Hawaary]

            Dalam agama sebagai sistem objektif yang terdiri dari ajaran iman, peraturan moral dan upacara-upacara ritual (ibadat) banyak terdapat unsur-unsur kebudayaan. Budaya menjadi raga dari jiwa ajaran agama. Budaya menjadi sarana realisasi spiritual dan pencapaian pengetahuan iluminatif tentang Tuhan dan mengapresiasi keindahan alam sebagai anugerah tak terbatas dari Tuhan. Atas dasar itu, maka setiap agama memiliki hubungan erat dengan budaya dan seni, bahkan dalam hal tertentu, seni lahir dari agama.
            Dalam sejarah islam, para penyiar islam ke Nusantara yang dikenal dengan sebutan  walisongo pada umumnya adalah ulama bercorak sufistik. Mereka mengedepankan dakwah kultural dan sangat akomodatif terhadap budaya lokal. Namun, kebijaksanaan para walisongo ini tidak jarang menerima kritik dari kaum skripturalis yang berdalil bahwa setiap perkara baru yang tidak dilakukan Rasulullah sebagai bid’ah.  Hal ini didasarkan, Hadist shahih terkenal berikut :
“… Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Al-qur’an dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad, dan seburuk-buruk perkara adalah perkara-perkara baru dan semua bid’ah itu sesat” (HR. Muslim, Kitabul Jum’at No.2042).
Dalam Riwayat Nasa’I dan Baihaki ada tambahan redaksi
“ … dan setiap kesesatan tempatnya di neraka.”
      Kaum Skripturalis memahami redaksi “ kullu” hadist diatas bersifat ‘am mutlak tanpa pengecualian.  Setiap bid’ah itu sesat dan setiap kesesatan tempatnya di Neraka. Perayaan agama dan ritual yang dilakukan tanpa contoh Nabi berarti bid’ah.  Deretan amaliah seperti muludan, tahlilan, barzanjian, Majelis Shalawatan, haul, dan lain-lain adalah munkar karena termasuk perkara baru tanpa preseden syar’i.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar