Selasa, 27 Desember 2016

ALIRAN FILSAFAT EKSISTENSIALISME

 Sejarah Kemunculan Aliran Filsafat Eksistensialisme
Eksistensialisme merupakan suatu aliran filsafat yang lahir karena latar belakang ketidakpuasan beberapa filusuf yang memandang bahwa filsafat pada masa Yunani hingga Modern, seperti protes terhadap rasionalisme Yunani, khususnya pandangan tentang spekulatif tentang manusia. Intinya adalah penolakan untuk mengikuti suatu aliran, penolakan terhadap kemampuan suatu kumpulan keyakinan, khususnya kemampuan sistem, rasa tidak puas terhadap filsafat tradisional yang bersifat dangkal, akademik, dan jauh dari kehidupan. Salah satu latar belakang dan alasan lahirnya aliran ini juga karena sadarnya beberapa golongan filusuf yang menyadari bahwa manusia mulai terbelenggu dengan aktifitas teknologi yang membuat mereka kehilangan hakekat hidupnya sebagai manusia atau mahluk yang bereksistensi dengan alam dan lingkungan sekitar. Dengan demikian, lahirlah aliran filsafat Eksistensialisme yang merupakan aliran filsafat yang bertujuan mengembalikan keberadaan umat manusia sesuai dengan keadaan hidup asasi yang dimiliki dan dihadapinya, sehingga manusia menyadari cara beradanya di dunia berbeda dengan cara beradanya benda-benda materi yang lain. Cara beradanya manusia adalah hidup bersama dengan manusia lainnya, ada kerjasama dan komunikasi serta dengan penuh kesadaran, sedangkan benda-benda meteri lain keberadaannya berdasarkan ketidak sadaran akan dirinya sendiri dan tidak dapat berkomunikasi antara satu dengan yang lainnya.
    
  Pengertian Sederhana Aliran Eksistensialisme
Dari sudut etimologi, eksistensi berasal dari kata “eks” yang berarti diluar dan “sistensi” yang berarti berdiri atau menempatkan, jadi secara luas eksistensi dapat diartikan sebagai berdiri sendiri sebagai dirinya sekaligus keluar dari dirinya.
Adapun eksistensialisme menurut pengertian terminologinya adalah suatu aliran dalam ilmu filsafat yang menekankan segala sesuatu terhadap manusia dan segala sesuatu yang mengiringinya, dan dimana manusia dipandang sebagai suatu mahluk yang harus bereksistensi atau aktif dengan sesuatu yang ada disekelilingnya, serta mengkaji cara kerja manusia ketika berada di alam dunia ini dengan kesadaran. Maka dapat disimpulkan bahwa pusat renungan atau kajian dari eksistensialisme adalah manusia konkret.
Ada beberapa ciri eksistensialisme, yaitu:
·         Selalu melihat cara manusia berada dan eksistensi sendiri diartikan secara dinamis sehingga ada unsur berbuat dan menjadi.
·         Manusia dipandang sebagai suatu realitas yang terbuka dan belum selesai, serta didasari dari pengalaman yang konkret atau empiris.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa eksistensialisme memandang manusia sebagai sesuatu yang tinggi, dan keberadaannya selalu ditentukan oleh dirinya, karena hanya manusialah yang dapat bereksistensi, yang sadar akan dirinya dan tahu bagaimana cara menempatkan dirinya. Dan ilmu-ilmu lain yang berkaitan dengan eksistensialisme, saya kira ilmu-ilmu yang berkaitan dengan manusia, seperti sosiologi (berkaitan dengan manusia dan keberadaannya di dalam lingkungan sosial), antropologi (berkaitan antara manusia dengan lingkungan budayanya).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar