Sejarah Kemunculan Aliran Filsafat
Eksistensialisme
Eksistensialisme merupakan suatu aliran
filsafat yang lahir karena latar belakang ketidakpuasan beberapa filusuf yang
memandang bahwa filsafat pada masa Yunani hingga Modern, seperti protes
terhadap rasionalisme Yunani, khususnya pandangan tentang spekulatif tentang
manusia. Intinya adalah penolakan untuk mengikuti suatu aliran, penolakan
terhadap kemampuan suatu kumpulan keyakinan, khususnya kemampuan sistem, rasa
tidak puas terhadap filsafat tradisional yang bersifat dangkal, akademik, dan
jauh dari kehidupan. Salah satu latar belakang dan alasan lahirnya aliran ini
juga karena sadarnya beberapa golongan filusuf yang menyadari bahwa manusia
mulai terbelenggu dengan aktifitas teknologi yang membuat mereka kehilangan
hakekat hidupnya sebagai manusia atau mahluk yang bereksistensi dengan alam dan
lingkungan sekitar. Dengan demikian, lahirlah aliran filsafat Eksistensialisme
yang merupakan aliran filsafat yang bertujuan mengembalikan keberadaan umat
manusia sesuai dengan keadaan hidup asasi yang dimiliki dan dihadapinya, sehingga
manusia menyadari cara beradanya di dunia berbeda dengan cara beradanya
benda-benda materi yang lain. Cara beradanya manusia adalah hidup bersama
dengan manusia lainnya, ada kerjasama dan komunikasi serta dengan penuh
kesadaran, sedangkan benda-benda meteri lain keberadaannya berdasarkan ketidak
sadaran akan dirinya sendiri dan tidak dapat berkomunikasi antara satu dengan
yang lainnya.
Pengertian Sederhana Aliran
Eksistensialisme
Dari sudut etimologi, eksistensi berasal dari
kata “eks” yang
berarti diluar dan “sistensi” yang berarti berdiri atau menempatkan, jadi secara luas eksistensi
dapat diartikan sebagai berdiri sendiri sebagai dirinya sekaligus keluar dari
dirinya.
Adapun eksistensialisme menurut pengertian
terminologinya adalah suatu aliran dalam ilmu filsafat yang menekankan segala
sesuatu terhadap manusia dan segala sesuatu yang mengiringinya, dan dimana
manusia dipandang sebagai suatu mahluk yang harus bereksistensi atau aktif
dengan sesuatu yang ada disekelilingnya, serta mengkaji cara kerja manusia
ketika berada di alam dunia ini dengan kesadaran. Maka dapat disimpulkan bahwa
pusat renungan atau kajian dari eksistensialisme adalah manusia konkret.
Ada beberapa ciri eksistensialisme, yaitu:
·
Selalu melihat cara manusia berada
dan eksistensi sendiri diartikan secara dinamis sehingga ada unsur berbuat dan
menjadi.
·
Manusia dipandang sebagai suatu
realitas yang terbuka dan belum selesai, serta didasari dari pengalaman yang
konkret atau empiris.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa
eksistensialisme memandang manusia sebagai sesuatu yang tinggi, dan
keberadaannya selalu ditentukan oleh dirinya, karena hanya manusialah yang
dapat bereksistensi, yang sadar akan dirinya dan tahu bagaimana cara
menempatkan dirinya. Dan ilmu-ilmu lain yang berkaitan dengan eksistensialisme,
saya kira ilmu-ilmu yang berkaitan dengan manusia, seperti sosiologi (berkaitan
dengan manusia dan keberadaannya di dalam lingkungan sosial), antropologi
(berkaitan antara manusia dengan lingkungan budayanya).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar