Sabtu, 10 Desember 2016

Paradigma Tauhid



“Katakanlah: Sesungguhnya Sholatku, ibadatku, hidupku, dan mariku hanyalah untuk Allah Rabb semesta alam.”[QS. Al- An’ am: 162]

Definisi
Paradigma adalah cara berfikir,kerangka berfikir,atau cara pandang seseorang dalam memikirkan dan memahami sesuatu.
Tauhid adalah konsep dalam aqidah Islam yang menyatakan keesaan Allah.
Paradigma Tauhid adalah cara berfikir,kerangka berfikir,atau cara pandang seseorang dalam memahami konsep dalam aqidah Islam yang menyatakan keesaan Allah.

Poin pertama dalam Rukun Iman adalah beriman kepada Allah. Sementara poin pertama dalam Rukun Islam adalah mengucapkan dua kalimat syahadat, yang kalimat pertamanya berisi kesaksian bahwa tiada Tuhan selain Allah.
Tauhid atau keesaan Allah merupakan prinsip utama yang diajarkan oleh agama-agama yang diturunkan oleh-Nya melalui para utusan-Nya. Semua agama itu mengajak manusia untuk mengenal Allah dan menjadi orang yang tunduk, patuh, serta berserah diri kepada Allah Yang Maha Esa. Sikap tunduk, patuh, dan berserah diri kepada Allah ini adalah definisi dari islam, sementara manusianya disebut muslim. Kedua sebutan itu kemudian melekat pada ajaran dan umat Nabi Muhammad saw. sebagai Nabi penutup yang ajarannya diperuntukkan manusia sampai akhir zaman.
Dalam Al-Qur’an, penekanan tentang keesaan Allah ini tercantum dalam surat al-Ikhlas ayat 1-4, yang berbunyi:
Allah Ta’ala berfirman,
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (1) اللَّهُ الصَّمَدُ (2) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (3) وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ (4

Artinya:
Katakanlah: “Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah tumpuan harapan (tempat bergantung segala sesuatu). Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.

Para ulama membedakan konsep tauhid dalam tiga cabang, yakni :
Tauhid Rububiyah
Tauhid Rububiyah yaitu mengesakan Allah dalam segala perbuatan-Nya, dengan meyakini bahwa Dia sendiri yang menciptakan dan memelihara alam semesta.
Tidak ada daya dan upaya kecuali atas izin Allah. Dia adalah Pencipta dan Penguasa alam, semua adalah milik-Nya. Semua adalah ciptaan-Nya, diatur, diciptakan, diberi fitrah, membutuhkan, dan dikendalikan-Nya.

Allah Ta’ala berfirman
“Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam” (Q.S. Al-Fatihah : 1)
Dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Engkau adalah Rabb di langit dan di bumi” (Mutafaqqun ‘Alaih)

Tauhid Rububiyah mengharuskan adanya Tauhid Uluhiyah. Hal ini berarti siapa yang mengakui tauhid rububiyah untuk Allah, dengan mengimani tidak ada pencipta, pemberi rizki, dan pengatur alam kecuali Allah, maka ia harus mengakui bahwa tidak ada yang berhak menerima ibadah dengan segala macamnya kecuali Allah. Maka tauhid rububiyah adalah pintu gerbang dari tauhid uluhiyah.

Tauhid Uluhiyah
Tauhid Uluhiyah adalah hukum yang mengatur masyarakat manusia untuk menyembah hanya kepada Allah serta taat dan patuh kepada syariat-Nya dengan atau tanpa persetujuan manusia.
Pada umumnya manusia tergoda dalam lembah syirik,karena menyangka bahwa jin,iblis,atau setan dapat mencuri dan berbagi informasi mengenai misteri atau peristiwa gaib yang belum di ketahui manusia.Seperti  jodoh,kematian,masa depan,kiamat dan lain-lain
Hukum tersebut tercantum dalam QS.Al-Fatihah  ayat 5
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
"(Hanya Engkaulah yang kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan).”
Allah Ta’ala berfirman
“Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang” (Q.S. Al-Baqarah : 163)
Dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Maka hendaklah apa yang kamu dakwahkan kepada mereka pertama kali adalah syahadat bahwa tiada Tuhan yang berhak diibadahi kecuali Allah” (Mutafaqqun ‘Alaih). Dalam riwayat Imam Bukhari,“Sampai mereka mentauhidkan Allah”.

Tauhid Mulkiyah
Tauhid Mulkiyah adalah hukum yang mengatur kesadaran manusia untuk sungguh – sungguh dalam menegakan syariat Allah di muka bumi dalam rangka mewujudkan keadilan sosial dan kemakmuran universal.
Dalil yang menjelaskan tentang Tauhid Mulkiyah
Katakanlah (wahai Muhammad): “Wahai Tuhan yang mempunyai kuasa pemerintahan, Engkaulah yang memberi kuasa pemerintahan kepada siapa yang Engkau kehendaki, dan Engkaulah yang mencabut kuasa pemerintahan dari siapa yang Engkau kehendaki. Engkaulah juga yang memuliakan siapa yang Engkau kehendaki dan Engkaulah yang menghina siapa yang Engkau kehendaki. Dalam kekuasaan Engkaulah saja adanya segala kebaikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu. [Ali Imran: 26]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar