Suatu bangunan kurikulum memiliki empat komponen
yaitu komponen tujuan, isi/materi, proses pembelajaran, dan komponen evaluasi,
maka agar setiap komponen bisa menjalankan fungsinya secara tepat dan
bersinergi, maka perlu ditopang oleh sejumlah landasan yaitu landasan filosofis
sebagai landasan utama, masyarakat dan kebudayaan, individu (peserta didik),
teori-teori belajar (psikologis), dan ilmu pengetahuan dan teknologi dan seni.
1.
Landasan
Filosofis
Filsafat
berasal dari bahasa Yunani kuno, yaitu dari kata philos dan sophia. Philos
artinya cinta yang mendalam dan sophia adalah kearifan atau kebijaksanaan.
Dengan demikian, filsafat secara harfiah dapat diartikan sebagai cinta yang
mendalam akan kearifan. Secara populer filsafat sering diartikan sebagai
pandangan hidup suatu masyarakat atau pendirian hidup bagi individu. Filsafat
sering diartikan sebagai pandangan hidup suatu masyarakat atau pendirian hidup
bagi individu.
Landasan
filosofis dalam pengembangan kurikulum ialah pentingnya rumusan yang didapatkan
dari hasil berpikir secara mendalam, analisis, logis, sistematis dalam
merencanakan, melaksanakan, membina dan mengembangkan kurikulum baik dalam
bentuk kurikulum sebagai rencana (tertulis), terlebih kurikulum dalam bentuk
pelaksanaan di sekolah. Filsafat memberikan arah dan metodologi terhadap
praktik-praktik pendidikan, sedangkan praktik- praktik pendidikan
memberikan bahan-bahan bagi pertimbangan filosofis. Keduanya sangat
berkaitan erat. Hal inilah yang menyebabkan landasan filosofis menjadi landasan
penting dalam pengembangan kurikulum.
Falsafah
atau pandangan hidup adalah system nilai dan berbagai norma yang disetujui,
baik oleh individu maupun masyarakat suatu bangsa. Dari falsafah pendidikan,
diperoleh gambaran ideal manusia yang dicita-citakan oleh masyarakat dalam
bangsa yang bersangkutan. Berdasarkan falsafah pendidikan, ditentukan tujuan
pendidikan nasional, yang selanjutnya mendasari tujuan istitusional, tujuan
kurikulum, dan tujuan instruksional.
a. Manfaat
Filsafat Pendidikan
Filsafat
pendidikan pada dasarnya adalah penerapan dari pemikiran-pemikiran filsafat
untuk memecahkan permasalahan pendidikan. Dengan demikian filsafat memiliki
manfaat dan memberikan kontribusi yang besar terutama dalam memberikan kajian sistematis berkenaan dengan kepentingan
pendidikan. Nasution (1982) mengidentifikasi beberapa manfaat filsafat
pendidikan, yaitu:
1) Filsafat
pendidikan dapat menentukan arah akan dibawa ke mana anak-anak melalui
pendidikan di sekolah. Sekolah ialah suatu lembaga yang didirikan untuk
mendidik anak-anak ke arah yang dicita-citakan oleh masyarakat, bangsa, dan
negara.
2) Dengan
adanya tujuan pendidikan yang diwarnai oleh filsafat yang dianut, kita mendapat
gambaran yang jelas tentang hasil yang harus dicapai. Manusia yang bagaimanakah
yang harus diwujudkan melalui usaha-usaha pendidikan itu.
3) Filsafat
dan tujuan pendidikan memberi kesatuan yang bulat kepada segala usaha
pendidikan.
4) Tujuan
pendidikan memungkinkan si pendidik menilai usahanya, hingga manakah tujuan itu
tercapai.
5) Tujuan
pendidikan memberikan motivasi atau dorongan bagi kegiatan-kegiatan pendidikan.
b. Filsafat
dan Tujuan Pendidikan
Pandangan-pandangan
filsafat sangat dibutuhkan dalam
pendidikan, terutama dalam menentukan
arah dan tujuan pendidikan. Filsafat
akan menentukan arah ke mana peserta didik akan dibawa. Untuk itu harus ada
kejelasan tentang pandangan hidup manusia atau tentang hidup dan eksistensinya.
Filsafat atau pandangan hidup yang dianut oleh suatu bangsa atau kelompok
masyarakat tertentu atau bahkan yang dianut oleh perorangan akan sangat
mempengaruhi tujuan pendidikan yang ingin dicapai. Sedangkan tujuan pendidikan
sendiri pada dasarnya merupakan rumusan yang komprehensif mengenai apa yang
seharusnya dicapai.
Tujuan
pendidikan memuat pernyataan-pernyataan mengenai berbagai kemampuan yang
diharapkan dapat dimiliki oleh peserta didik selaras dengan sistem nilai dan
falsafah yang dianutnya. Dengan demikian, sistem nilai atau filsafat yang
dianut oleh suatu komunitas akan memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan
rumusan tujuan pendidikan yang dihasilkannya. Dengan kata lain, filsafat suatu
negara tidak bisa dipungkiri akan mempengaruhi tujuan pendidikan di negara
tersebut. Oleh karena itu, tujuan pendidikan di suatu negara akan berbeda
dengan tujuan pendidikan di negara lainnya, sebagai implikasi dari adanya
perbedaan filsafat yang dianutnya.
2.
Landasan
Psikologis
Secara
psikologis, anak didik memiliki keunikan dan perbedaan-perbedaan baik perbedaan
minat, bakat, maupun potensi yang dimilikinya sesuai dengan tahapan
perkembangannya. Dengan alasan itulah, kurikulum harus memerhatikan kondisi
psikologis perkembangan dan kondisi psikologis belajar anak. Penerapan landasan
psikologi dalam pengembangan kurikulum, tiada lain agar upaya pendidikan yang
dilakukan dapat menyesuaikan dari segi materi atau bahan yang harus
disampaikan, penyesuaian dari segi proses penyampaian atau pembelajarannya, dan
penyesuaian dari unsur-unsur upaya pendidikan lainnya.
Pengembangan
kurikulum di pengaruhi oleh kondisi psikologis individu yang terlibat
didalamnya, karena apa yang ingin disampaikan menuntut peserta didik untuk
melakukan perbuatanbelajar atau sering disebut proses belajar. Dalam proses
pembelajaran juga terjadi interaksi yang bersifat multiarah anatar peserta
didik dan pendidik (guru). Untuk itu, paling tidak dalam pengembangan kurikulum
diperlukan dua landasan psikologi, yaitu psikologi belajar dan psikologi
perkembangan. Kedua landasan ini dianggap penting terutama dalam memilih dan
menyusun isi kurikulum, proses pembelajaran dan hasil belajar yang diinginkan.
a. Psikologi
Belajar
Psikologi
belajar merupakan ilmu yang mempelajari tentang bagaimana peserta didik
melakukan perbuatan belajar. Pengertian belajar banyak ragamnya, bergantung
pada teori belajar yang dianut. Namun demikian, secara umum, belajar dapat
diartikan sebagai suatu proses perubahan tingkah laku dapat berbentuk
pengetahuan, keterampilan, sikap atau nilai-nilai. Perubahan tingkah laku
karena insting, kematangan atau pengaruh zat-zat kimia tidak termasuk perbuatan
belajar.
b. Psikologi
Perkembangan
Tujuan akhir
pendidik adalah agar peserta didik menjadi manusia-manusia terdidik. Asumsinya,
setiap peserta didik dapat dibimbing, dilatih, dan dididik (educable). Jika
terjadi kegagalan berarti kegagalan guru, oranf tua dan masyarakat, bukan
kegagalan peserta didik karena tidak ada peserta didik yang untaechable.
3.
Landasan
Sosiologis dan Antropologi
Landasan
sosiologis menyangkut kekuatan-kekuatan sosial di masyarakat. Kekuatan-kekuatan
itu berkembang dan selalu berubah-ubah sesuai dengan perkembangan zaman.
Kekuatan itu dapat berupa kekuatan yang nyata maupun yang potensial, yang
berpengaruh dalam perkembangan kebudayaan seirama dengan dinamika masyarakat.
Antropologi
adalah salah satu cabang ilmu pengetahuan sosial yang mempelajari tentang
budaya masyarakat suatu etnis tertentu. Antropologi lahir atau muncul berawal
dari ketertarikan orang-orang Eropa yang melihat ciri-ciri fisik, adat
istiadat, budaya yang berbeda dari apa yang dikenal di Eropa. Terbentuklah ilmu
antropologi dengan melalui beberapa fase. Antropologi lebih memusatkan pada
penduduk yang merupakan masyarakat tunggal, tunggal dalam arti kesatuan
masyarakat yang tinggal daerah yang sama, antropologi mirip seperti sosiologi
tetapi pada sosiologi lebih menitik beratkan pada masyarakat dan kehidupan
sosialnya. Antropologi berasal dari kata anthropos yang berarti
"manusia", dan logos yang berarti ilmu. Antropologi mempelajari
manusia sebagai makhluk biologis sekaligus makhluk sosial.
Peserta
didik berasal dari masyarakat, mendapatkan pendidikan baik formal maupun
informal dalam lingkungan masyarakat dan diarahkan bagi kehidupan masyarakat
pula. Kehidupan masyarakat, dengan segala karakteristik dan kekayaan budayanya
menjadi landasan dan sekaligus acuan bagi pendidikan. Dengan pendidikan, kita
tidak mengharapkan muncul manusia–manusia yang menjadi terasing dari lingkungan
masyarakatnya, tetapi justru melalui pendidikan diharapkan dapat lebih mengerti
dan mampu membangun kehidupan masyakatnya. Oleh karena itu, tujuan, isi, maupun
proses pendidikan harus disesuaikan dengan kebutuhan, kondisi, karakteristik,
kekayaan dan perkembangan yang ada di masyakarakat.
Kemasyarakatan
beranjak dari suatu masyarakat tertentu. Masyarakat merupakan suatu sistem,
yakni sistem keyakinan, sistem nilai, sistem kebutuhan, dan sistem permintaan.
Oleh karenanya, kurikulum yang dikembangkan harus berpijak dan relevann dengan
masyarakat tempat kurikulum tersebut akan dilaksanakan.
Kebudayaan
bukan hanya berupa material belaka, melainkan berupa sikap mental, cara
berpikir, dan kebiasaan hidup. Kebudayaan mencangkup berbagai dimensi,
diantaranya keluarga, pendidikan, politik, ekonomi, sosial, teknologi,
rekreasi, dan bantuan bagi kaum lemah. Semua dimensi tersebut hendaknya
dipertimbangkan dalam proses pengembangan kurikulum.
Israel
Scheffer (Nana Syaodih Sukamdinata, 1997) mengemukakan bahwa melalui pendidikan
manusia mengenal peradaban masa lalu, turut serta dalam peradaban sekarang dan
membuat peradaban masa yang akan datang. Dengan demikian, kurikulum yang
dikembangkan sudah seharusnya mempertimbangkan, merespons dan berlandaskan pada
perkembangan sosial–budaya dalam suatu masyarakat, baik dalam konteks lokal,
nasional maupun global.
4.
Landasan
IPTEKS
a. Pengertian
Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Kata “ilmu”
berasal dari bahasa arab (alama) yang berarti pengetahuan. Dalam bahasa
indonesia, kata “ilmu” sering diidentikkan dengan sains yang berarti ilmu,
bahkan sering disatukan dengan kata “pengetahuan” menjadi ilmu pengetahuan.
Pada awalnya manusia mencari pengetahuan berdasarkan fakta yang terlepas-lepas,
tidak sistematis, dan tidak berdasarkan teori yang jelas. Sesuai dengan
perkembangan kebudayaan, mulailah manusia menyusun teori tentang berbagai hal
sesuai dengan fakta yang ada. Dalam perkembangannya fakta dan teori tersebut
digunakan juga untuk memahami fenomena lain yang didukung oleh pengalaman.
Akhirnya, menjadi pengetahuan logis dan sistematis. Inilah yang di sebut dengan
ilmu pengetahuan.
Pengetahuan
adalah seperangkat objek tertentu yang diketahui individu. Pengetahuan dan
pengalaman akan menjadi ilmu pengetahuan jika pengetahuan itu disusun secara
sistematis, menggunakan pola berpikir logis.
Teknologi
memegang peranan penting dalam kehidupan budaya manusia. Salah satu indikator
kemajuan peradaban manusia dapat di ukur dari kemajuan ilmu pengetahuan dan
teknologi. Teknologi banyak digunakan dalam berbagai bidang kehidupan.
Tujuannya adalah untuk menciptakan suatu kondisi yang efektif, efisien, dan
sinergis terhadap pola perilaku manusia.
Produk teknologi
tidak selalu berbentuk fisik, seperti komputer, televisi, radio, tape recorder,
video, film dan sebagainya, tetapi ada juga non-fisik, seperti prosedur
pembelajaran, sistem evaluasi, teknik mengajar dan sebagainya. Produk teknologi
tersebut banyak digunakan dalam pendidikan sehingga memberikan pengaruh yang
sangat signifikan terhadap proses dan hasil pendidikan.Ilmu pengetahuan adalah
seperangkat pengetahuan yang disusun secara sistematis yang dihasilkan melalui
riset atau penelitian. Sedangkan teknologi adalah aplikasi dari ilmu
pengetahuan untuk memecahkan masalah-masalah praktis dalam kehidupan.
b. Pendidikan
dan Teknologi
Pendidikan
merupakan usaha menyiapkan subjek didik (siswa) menghadapi lingkungan hidup
yang mengalami perubahan yang semakin pesat. Pendidikan adalah usaha sadar
untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan atau
latihan bagi perannya di masa yang akan datang. Teknologi adalah aplikasi dari
ilmu pengetahuan ilmiah dan ilmu-ilmu lainnya untuk memecahkan masalah-masalah
praktis. Ilmu dan teknologi tak dapat dipisahkan. Ilmu pengetahuan dan
teknologi berkembang teramat pesat seiring lajunya perkembangan masyarakat.
Untuk mencapai
tujuan dan kemampuan- kemampuan tersebut, maka ada hal-hal yang dijadikan
sebagai dasar, yakni:
1) Pembangunan
IPTEK harus berada dalam keseimbangan yang dinamis dan efektif dengan pembinaan
sumber daya manusia, pengembangan sarana dan prasarana iptek, pelaksanaan dan
penelitian dan pengembangan serta rekayasa dan produksi barang dan jasa.
2) Pembangunan
IPTEK tertuju pada peningkatan kualitas, yakni untuk meningkatkan kualitas
kesejahteraan dan kehidupan bangsa.
3) Pembangunan
IPTEK harus selaras (relevan) dengan nilai-nilai agama, nilai luhur budaya
bangsa, kondisi sosial budaya, dan lingkungan hidup.
4) Pembangunan
IPTEK harus berpijak pada upaya peningkatan produktivitas, efesiensi dan
efektivitas penelitian dan pengembangan yang lebih tinggi.
5) Pembangunan
IPTEK berdasarkan pada asas pemanfaatannya yang memberikan nilai tambah dan
memberikan pemecahan masalah konkret dalam pembangunan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar