Terdapat banyak prinsip yang mungkin digunakan dalam
pengembangan kurikulum. Macam-macam prinsip ini bisa dibedakan dalam dua
kategori yaitu prinsip umum dan prinsip khusus. Prinsip
umum biasanya digunakan hampir dalam setiap pengembangan kurikulum
dimanapun. Di samping itu, prinsip umum ini merujuk pada prinsip yang harus
diperhatikan untuk dimiliki oleh kurikulum sebagai totalitas dari gabungan
komponen-komponen yang membangunnya.
Prinsip khusus artinya prinsip yang hanya berlaku ditempat
tertentu dan situasi tertentu. Prinsip khusus ini juga merujuk pada
prinsip-prinsip yang digunakan dalam pengembangan komponen-komponen kurikulum
secara tersendiri, misalnya prinsip yang digunakan untuk mengembangkan komponen
tujuan, prinsip untuk mengembangkan kompenen isi kurikulum
dan prinsip-prinsip yang mengembangkan kurikulum lainnya
1.
Prinsip-prinsip
Umum Pengembangan Kurikulum.
Agar
kurikulum dapat berfungsi sebagai pedoman dalam penyelenggaraan pendidikan,
maka ada sejumlah prinsip dalam proses pengembangannya. Di bawah ini akan
diuraikan prinsip-prinsip umum dalam pengembangan kurikulum.
a.
Prinsip Relevansi
Kurikulum
merupakan rel-nya pendidikan untuk membawa siswa agar dapat hidup sesuai dengan
nilai-nilai yang ada di masyarakat serta membekali siswa baik dalam bidang
pengetahuan, sikap maupun keterampilan sesuai dengan tuntutan dan harapan
masyarakat. Oleh sebab itu, pengalaman-pengalaman belajar yang disusun dalam
kurikulum harus relevan dengan kebutuhan masyarakat. Inilah yang disebut dengan
prinsip relevansi. Prinsip relevansi adalah prinsip kesesuaian. Ada dua macam
relevansi, yaitu :
1)
Relevansi
internal
Relevansi
internal adalah bahwa setiap kurikulum harus memiliki keserasian antara
komponen-komponennya, yaitu keserasian antara tujuan yang harus dicapai, isi,
materi atau pengalaman belajar yang harus dimiliki siswa, strategi atau metode
yang digunakan serta alat penilaian untuk melihat ketercapaian tujuan.
Relevansi internal ini menunjukkan keutuhan suatu kurikulum.
2)
Relevansi
eksternal
Relevansi
eksternal berkaitan dengan keserasian antara tujuan, isi, dan proses belajar
siswa yang tercakup dalam kurikulum dengan kebutuhan dan tuntutan masyarakat.
Ada tiga macam relevansi eksternal dalam pengembangan kurikulum:
Ada tiga macam relevansi eksternal dalam pengembangan kurikulum:
a)
Relevan
dengan lingkungan hidup peserta didik (relevansi sosiologis). Bisa diartikan
bahwa proses pengembangan dan penetapan isi kurikulum hendaklah disesuaikan
dengan kondisi lingkungan sekitar siswa. Contohnya untuk siswa yang ada di
perkotaan perlu diperkenalkan kehidupan di lingkungan kota, seperti keramaian
dan rambu-rambu lalu lintas; tata cara dan pelayanan jasa bank, kantor pos, dan
lain sebagainya. Demikian juga untuk sekolah yang berada di daerah pantai,
perlu diperkenalkan bagaimana kehidupan di pantai, seperti mengenai tambak,
kehidupan nelayan, koperasi, pembibitan udang, dan lain sebagainya.
b)
Relevan
dengan perkembangan zaman baik sekarang maupun dengan yang akan datang
Bisa diartikan bahwa relevansi harus sesuai dengan tuntutan ilmu pengetahuan dan teknologi (relevansi epistomologis). Artinya, isi kurikulum harus sesuai dengan situasi dan kondisi yang sedang berkembang. Selain itu juga apa yang diajarkan kepada siswa harus bermanfaat untuk kehidupan siswa pada waktu yang akan datang. Misalkan untuk kehidupan yang akan datang, penggunaan komputer dan Internet akan menjadi salah satu kebutuhan, maka dengan demikian bagaimana cara memanfaatkan komputer dan bagaimana cara mendapatkan informasi dari Internet sudah harus diperkenalkan kepada siswa. Demikian juga dengan kemampuan berbahasa. Pada masa yang akan datang ketika pasar bebas seperti persetujuan APEC mulai berlaku, maka masyarakat akan dihadapkan kepada persaingan merebut pasar kerja dengan orang-orang asing. Oleh karenanya keterampilan berbahasa asing sudah harus mulai dipupuk sejak sekarang.
Bisa diartikan bahwa relevansi harus sesuai dengan tuntutan ilmu pengetahuan dan teknologi (relevansi epistomologis). Artinya, isi kurikulum harus sesuai dengan situasi dan kondisi yang sedang berkembang. Selain itu juga apa yang diajarkan kepada siswa harus bermanfaat untuk kehidupan siswa pada waktu yang akan datang. Misalkan untuk kehidupan yang akan datang, penggunaan komputer dan Internet akan menjadi salah satu kebutuhan, maka dengan demikian bagaimana cara memanfaatkan komputer dan bagaimana cara mendapatkan informasi dari Internet sudah harus diperkenalkan kepada siswa. Demikian juga dengan kemampuan berbahasa. Pada masa yang akan datang ketika pasar bebas seperti persetujuan APEC mulai berlaku, maka masyarakat akan dihadapkan kepada persaingan merebut pasar kerja dengan orang-orang asing. Oleh karenanya keterampilan berbahasa asing sudah harus mulai dipupuk sejak sekarang.
c)
Relevan
dengan tuntutan dunia pekerjaan dan tuntutan dan potensi peserta didik
(relevansi psikologis)
Artinya bahwa apa yang diajarkan di sekolah harus mampu memenuhi dunia kerja. Untuk sekolah kejuruan contohnya, kalau dahulu di Sekolah Kejuruan Ekonomi dilatih bagaimana agar siswa mampu menggunakan mesin tik sebagai alat untuk keperluan surat-menyurat, maka sekarang mesin tik sudah tidak banyak digunakan, akan tetapi yang lebih banyak digunakan komputer. Dengan demikian, keterampilan mengoperasikan komputer harus diajarkan. Untuk memenuhi prinsip relevansi ini, maka dalam proses pengembangannya sebelum ditentukan apa yang menjadi isi dan model kurikulum yang bagaimana yang akan digunakan, perlu dilakukan studi pendahuluan dengan menggunakan berbagai metode dan pendekatan seperti melakukan survei kebutuhan dan tuntutan masyarakat; atau melakukan studi tentang jenis-jenis pekerjaan yang dibutuhkan oleh setiap lembaga atau instansi.
Artinya bahwa apa yang diajarkan di sekolah harus mampu memenuhi dunia kerja. Untuk sekolah kejuruan contohnya, kalau dahulu di Sekolah Kejuruan Ekonomi dilatih bagaimana agar siswa mampu menggunakan mesin tik sebagai alat untuk keperluan surat-menyurat, maka sekarang mesin tik sudah tidak banyak digunakan, akan tetapi yang lebih banyak digunakan komputer. Dengan demikian, keterampilan mengoperasikan komputer harus diajarkan. Untuk memenuhi prinsip relevansi ini, maka dalam proses pengembangannya sebelum ditentukan apa yang menjadi isi dan model kurikulum yang bagaimana yang akan digunakan, perlu dilakukan studi pendahuluan dengan menggunakan berbagai metode dan pendekatan seperti melakukan survei kebutuhan dan tuntutan masyarakat; atau melakukan studi tentang jenis-jenis pekerjaan yang dibutuhkan oleh setiap lembaga atau instansi.
b.
Prinsip
Fleksibilitas
Prinsip
fleksibilitas artinya bahwa kurikulum itu harus lentur dan tidak kaku, terutama
dalam hal pelaksanaannya, dalam pengembangan kurikulum mengusahakan agar apa
yang dihasilkan memiliki sifat luwes, lentur dan fleksibel dalam
pelaksanaannya, memungkinkan terjadinya penyesuaian-penyesuaian berdasarkan
situasi dan kondisi tempat dan waktu yang selalu berkembang, serta kemampuan dan
latar bekang peserta didik. Apa yang diharapkan dalam kurikulum ideal
kadang-kadang tidak sesuai dengan kondisi kenyataan yang ada. Bisa saja
ketidaksesuaian itu ditunjukkan oleh kemampuan guru yang kurang, latar belakang
atau kemampuan dasar siswa yang rendah, atau mungkin sarana dan prasarana yang
ada di sekolah tidak memadai. Kurikulum harus bersifat lentur atau fleksibel.
Artinya, kurikulum itu harus bisa dilaksanakan sesuai dengan kondisi yang ada.
Kurikulum yang kaku atau tidak fleksibel akan sulit diterapkan.
Prinsip
fleksibilitas memiliki dua sisi:
1.
fleksibel
bagi guru, yang artinya kurikulum harus memberikan ruang gerak bagi guru untuk
mengembangkan program pengajarannya sesuai dengan kondisi yang ada.
2.
fleksibel
bagi siswa, artinya kurikulum harus menyediakan berbagai kemungkinan program
pilihan sesuai dengan bakat dan minat siswa.
c.
Prinsip
Kontinuitas
Prinsip
kontinuitas yaitu adanya kesinambungandalam kurikulum, baik secara vertikal,
maupun secara horizontal. Pengalaman-pengalaman belajar yang disediakan
kurikulum harus memperhatikan kesinambungan, baik yang di dalam tingkat kelas,
antar jenjang pendidikan, maupun antara jenjang pendidikan dengan jenis
pekerjaan. Prinsip ini mengandung pengertian bahwa perlu dijaga saling
keterkaitan dan kesinambungan antara materi pelajaran pada berbagai jenjang dan
jenis program pendidikan. Dalam penyusunan materi pelajaran perlu dijaga agar
apa yang diperlukan untuk mempelajari suatu materi pelajaran pada jenjang yang
lebih tinggi telah diberikan dan dikuasai oleh siswa pada waktu mereka berada pada
jenjang sebelumnya. Prinsip ini sangat penting bukan hanya untuk menjaga agar
tidak terjadi pengulanganpengulangan materi pelajaran yang memungkinkan program
pengajaran tidak efektif dan efisien, akan tetapi juga untuk keberhasilan siswa
dalam menguasai materi pelajaran pada jenjang pendidikan tertentu.
Untuk
menjaga agar prinsip kontinuitas itu berjalan, maka perlu ada kerja sama antara
pengembang kurikulum pada setiap jenjang pendidikan, misalkan para pengembang
pendidikan pada jenjang sekolah dasar, jenjang SLTP, jenjang SLTA, dan bahkan
dengan para pengembang kurikulum di perguruan tinggi.
d.
Prinsip
Efektifitas
Prinsip
efektivitas merujuk pada pengertian kurikulum itu selalu berorientasi pada
tujuan tertentu yang ingin dicapai. Kurikulum bias dikatakan sebagai instrument
untuk mencapai tujuan. Oleh karena itu, jenis dan karakteristik tujuan apa yang
ingin dicapai harus jelas. Kejelasan tujuan akan mengarahkan pada pemilihan dan
penentuan isi, metode dan system evaluasi serta model kurikulum apa yang akan
digunakan juga akan mempermudah dan mengarahkan dalam implementasi kue\rikulu
itu sendiri. Prinsip efektifitas mengusahakan agar kegiatan pengembangan
kurikulum mencapai tujuan tanpa kegiatan yang mubazir, baik secara kualitas
maupun kuantitas. Prinsip efektivitas berkenaan dengan rencana dalam suatu
kurikulum dapat dilaksanakan dan dapat dicapai dalam kegiatan belajar mengajar.
Terdapat
dua sisi efektivitas dalam suatu pengembangan kurikulum. Pertama, efektivitas
berhubungan dengan kegiatan guru dalam melaksanakan tugas mengimplementasikan
kurikulum di dalam kelas. Kedua,
efektivitas kegiatan siswa dalam melaksanakan kegiatan belajar. Efektivitas
kegiatan guru berhubungan dengan keberhasilan
mengimplementasikan program sesuai dengan perencanaan yang telah disusun.
Sebagai contoh, apabila guru menetapkan dalam satu caturwulan atau satu
semester harus menyelesaikan 12 program pembelajaran sesuai dengan pedoman
kurikulum, ternyata dalam jangka waktu tersebut hanya dapat menyelesaikan 4
atau 5 program saja, berarti dapat dikatakan bahwa pelaksanaan program itu tidak efektif.
Efektivitas kegiatan siswa berhubungan dengan sejauh mana siswa dapat mencapai tujuan yang telah ditentukan sesuai dengan jangka waktu tertentu. Sebagai contoh apabila ditetapkan dalam satu caturwulan siswa harus dapat mencapai sejumlah tujuan pembelajaran, ternyata hanya sebagian saja dapat dicapai siswa, maka dapat dikatakan bahwa, proses pembelajaran siswa tidak efektif.
Efektivitas kegiatan siswa berhubungan dengan sejauh mana siswa dapat mencapai tujuan yang telah ditentukan sesuai dengan jangka waktu tertentu. Sebagai contoh apabila ditetapkan dalam satu caturwulan siswa harus dapat mencapai sejumlah tujuan pembelajaran, ternyata hanya sebagian saja dapat dicapai siswa, maka dapat dikatakan bahwa, proses pembelajaran siswa tidak efektif.
e.
Prinsip
Efisiensi
Prinsip
efisiensi yaitu mengusahakan agar dalam pengembangan kurikulum dapat
mendayagunakan waktu, biaya, dan sumber-sumber lain yang ada secara optimal,
cermat dan tepat sehingga hasilnya memadai.
Prinsip
efisiensi berhubungan dengan perbandingan antara tenaga, waktu, suara, dan
biaya yang dikeluarkan dengan hasil yang diperoleh.
Kurikulum
dikatakan memiliki tingkat efisiensi yang tinggi apabila dengan sarana, biaya
yang minimal dan waktu yang terbatas dapat memperoleh hasil yang maksimal.
Betapa pun bagus dan idealnya suatu kurikulum, manakala menuntut peralatan,
sarana dan prasarana yang sangat khusus serta mahal pula harganya, maka
kurikulum itu tidak praktis dan sukar untuk dilaksanakan. Kurikulum harus
dirancang untuk dapat digunakan dalam segala keterbatasan.
1)
Terkait
dengan pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, terdapat sejumlah
prinsip-prinsip yang harus dipenuhi, yaitu : Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan
kepentingan peserta didik dan lingkungannya. Kurikulum dikembangkan berdasarkan
prinsip bahwa peserta didik memiliki posisi sentral untuk mengembangkan
kompetensinya agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang
Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi
warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Untuk mendukung
pencapaian tujuan tersebut pengembangan kompetensi peserta didik disesuaikan
dengan potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik serta
tuntutan lingkungan.
2)
Kurikulum
dikembangkan dengan memperhatikan keragaman karakteristik peserta didik,
kondisi daerah, dan jenjang serta jenis pendidikan, tanpa membedakan agama,
suku, budaya dan adat istiadat, serta status sosial ekonomi dan gender.
Kurikulum meliputi substansi komponen muatan wajib kurikulum, muatan lokal, dan
pengembangan diri secara terpadu, serta disusun dalam keterkaitan dan
kesinambungan yang bermakna dan tepat antarsubstansi.
3)
Tanggap terhadap perkembangan ilmu
pengetahuan, teknologi, dan seni. Kurikulum dikembangkan atas dasar kesadaran
bahwa ilmu pengetahuan, teknologi dan seni berkembang secara dinamis, dan oleh
karena itu semangat dan isi kurikulum mendorong peserta didik untuk mengikuti
dan memanfaatkan secara tepat perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.
4)
Relevan
dengan kebutuhan kehidupan. Pengembangan kurikulum dilakukan dengan melibatkan
pemangku kepentingan (stakeholders) untuk menjamin relevansi pendidikan dengan
kebutuhan kehidupan, termasuk di dalamnya kehidupan kemasyarakatan, dunia usaha
dan dunia kerja. Oleh karena itu, pengembangan keterampilan pribadi,
keterampilan berpikir, keterampilan sosial, keterampilan akademik, dan
keterampilan vokasional merupakan keniscayaan.
5)
Menyeluruh
dan berkesinambungan. Substansi kurikulum mencakup keseluruhan dimensi
kompetensi, bidang kajian keilmuan dan mata pelajaran yang direncanakan dan
disajikan secara berkesinambungan antarsemua jenjang pendidikan.
6)
Belajar
sepanjang hayat. Kurikulum diarahkan kepada proses pengembangan, pembudayaan
dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat. Kurikulum
mencerminkan keterkaitan antara unsur-unsur pendidikan formal, nonformal dan
informal, dengan memperhatikan kondisi dan tuntutan lingkungan yang selalu
berkembang serta arah pengembangan manusia seutuhnya.
7)
Seimbang
antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah. Kurikulum dikembangkan
dengan memperhatikan kepentingan nasional dan kepentingan daerah untuk
membangun kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Kepentingan
nasional dan kepentingan daerah harus saling mengisi dan memberdayakan sejalan
dengan motto Bhineka Tunggal Ika dalam kerangka Negara Kesatuan Republik
Indonesia. Pemenuhan prinsip-prinsip di atas
itulah yang membedakan antara penerapan satu Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan dengan kurikulum sebelumnya, yang justru tampaknya sering kali
terabaikan. Karena prinsip-prinsip itu boleh dikatakan sebagai ruh atau jiwanya
kurikulum
Dalam mensikapi suatu perubahan kurikulum, banyak orang lebih terfokus hanya pada pemenuhan struktur kurikulum sebagai jasad dari kurikulum . Padahal jauh lebih penting adalah perubahan kutural (perilaku) guna memenuhi prinsip-prinsip khusus yang terkandung dalam pengembangan kurikulum.
Dalam mensikapi suatu perubahan kurikulum, banyak orang lebih terfokus hanya pada pemenuhan struktur kurikulum sebagai jasad dari kurikulum . Padahal jauh lebih penting adalah perubahan kutural (perilaku) guna memenuhi prinsip-prinsip khusus yang terkandung dalam pengembangan kurikulum.
Tugas dan tanggung jawab adari para
pengembang kurikulum akan dipermudah jika mengikuti prinsip-prinsip
pengembangan kurikulum. Dalam hal ini Olivia mengajukan sepuluh prinsip (axiom)
pengembangan kurikulum, yaitu :
a. Perubahan kurikulum adalah sesuatu
yang tidak dapat dihindarkan dan bahkan diperlukan.
b. Kurikulum merupakan produk dari masa
yang berkelanjutan.
c. Perubahan kurikulum masa lalu sering
sering terdapat secara bersamaan bahkan tumpang tindih dengan perubahan
kurikulum masa kini.
d. Perubahan kurikulum akan terjadi dan
berhasil sebagai akibat dan jika ada perubahan pada orang-orang atau
masyarakat.
e. Pengembangan kurikulum adalah
kegiatan kerjasama kelompok.
f. Pengembangan kurikulum pada dasarnya adalah
proses menentukan pilihan dari sekian alternative yang ada.
g. Pengembangan kirikulum adalah
kegiatan yang tidak akan pernah berakhir.
h. Pengembangan kurikulum akan barhasil
jika dilakukan dengan komprehensif, bukan aktivitas bagian perbagian yang
terpisah.
i.
Pengembangan
kurikulum akan lebih nefektif jika dilakukan dengan mengikuti suatu proses yang
sistematis.
j.
Pengembangan kurikulum dilakukan barangkat
dari kurikulum yang ada.
2.
Prinsip-prinsip
Khusus Pengembangan Kurikulum.
Sebagaimana telah disebutkan dimuka, bahwa prinsip khusus
berkenaan dengan prinsip yang hanya berlaku ditempat tertentu dan situasi
tertentu. Prinsip khusus ini merujuk pada prinsip-prinsip yang digunakan dalam
pengembangan komponen-komponen kurikulum secara khusus (tujuan, isi, metode dan
evaluasi) satu wilayah dengan wilayah lainnya, satu jenis jenjang pendidikan
dengan jenis dan jenjang pendidikan lainnya memiliki karakteristik yang berbeda
dalam beberapa aspek. Perbedaan ini tentu bisa mengakibatkan adanya penggunaan
prinsip-prinsip yang khas sesuai dengan situasi dan kondisi setempat dan
karakteristik jenis dan jenjang pendidikan tersebut.
Disamping prinsip-prinsip umum yang dijelaskan dimuka.
Prinsip-prinsip pengembangan kurikulum khusus lainnya yaitu merujuk pada
prinsip-prinsip pengembangan komponen-komponen kurikulum, yang mana antara satu
komponen dan komponen lainnya memiliki prinsip yang tidak sama. Dibawah
ini akan diuraikan beberapa prinsip pengembangan kurikulum khusus yang
berkaitan dengan pengembangan komponen-komponen kurikulum merujuk pada tulisan Sukmadinata
(2012: 152-154) antara lain sebagai berikut:
a. Prinsip Yang Berkenaan Dengan Tujuan Pendidikan
Tujuan pendidikan mencakup tujuan
yang bersifat umum atau jangka panjang, jangka menengah, dan jangka pendek
(khusus). Perumusan tujuan pendidikan bersumber pada:
1) Ketentuan dan kebijakan pemerintah,
yang dapat ditemukan dalam dokumen-dokumen lembaga negara mengenai tujuan, dan
stategi pembangunan termasuk di dalamnya pendidikan.
2) Survai mengenai persepsi orang tua/
masyarakat tentang kebutuhan mereka yang dikirimkan melalui angket atau
wawancara dengan mereka.
3) Survai tentang pandangan para ahli
dalam bidang-bidang tertentu, dihimpun melalui angket, wawancara, observasi,
dan dari berbagai media massa.
4) Survai
tentang manpower (sumber daya manusia/ tenaga kerja).
5) Pengalaman Negara-negara lain dalam
masalah yang sama.
6) Penelitian
b. Prinsip Yang Berkenaan Dengan Pemilihan Isi Pendidikan
Beberapa pertimbangan yang perlu dilakukan untuk menentukan isi pendidikan
kurikulum, yaitu:
1) Perlu penjabaran tujuan
pendidikan/pengajaran ke dalam perbuatan hasil belajar yang khusus dan
sederhana. Makin umum suatu perbuatan hasil belajar dirumuskan semakin sulit
menciptakan pengalaman belajar.
2) Isi bahan pelajaran harus meliputi
segi pengetahuan, sikap, dan keterampilan.
3) Unit-unit kurikulum harus disusun dalam urutan
yang logis dan sistematis. Ketiga ranah belajar, yaitu kognitif, sikap, dan
keterampilan, diberikan secara simultan dalm urutan situasi belajar
c. Prinsip Berkenaan Dengan Pemilihan Proses Belajar Mengajar
Hal-hal
yang perlu diperhatikan untuk menentukan kegiatan proses belajar mengajar:
1) Apakah metode/teknik belajar
mengajar yang digunakan cocok untuk mengajarkan bahan pelajaran?
2) Apakah metode/teknik tersebut
memberikan kegiatan yang bervariasi sehingga dapat melayani perbedaan
individual siswa?
3) Apakah metode/teknik tersebut dapat
memberikan urutan kegiatan yang bertingkat-tingkat?
4) Apakah metode/teknik tersebut dapat
menciptakan kegiatan untuk mencapai tujuan kognitif, afektif, dan psikomotor?
5) Apakah
metode/teknik tersebut lebih mengaktifkan siswa, atau mengaktifkan
guru atau kedua-duanya?
6) Apakah metode/teknik tersebut
mendorong berkembangnya kemampuan baru?
7) Apakah metode/teknik tersebut
menimbulkan jalinan kegiatan belajar di sekolah dan di rumah, juga mendorong
penggunaan sumber belajar yang ada di rumah dan masyarakat?
8) Untuk belajar keterampilan sangat
dibutuhkan kegiatan belajar yang menekankan “learning by doing” disamping
“learning by seeing and knowing”.Prinsip Berkenaan Dengan Pemilihan Media Atau Alat
Pengajaran
d. Beberapa prinsip yang dapat
dijadikan pegangan untuk memilih dan mengunakan media dan alat bantu
pembelajaran.
1) Alat/media apa yang diperlukan?
Apakah semuanya sudah tersedia? Bila alat tersebut tidak ada, apakah ada
penggantinya?
2) Kalau ada yang harus dibuat, hendaknya
memperhatikan bagaimana membuatnya, siapa yang membuat, pembiayaannya, serta
waktu pembuatannya?
3) Bagaimana pengorganisasian alat dan
bahan pelajaran, apakah dalam bentuk modul, paket belajar, dan lain-lain?
4) Bagaimana pengintegrasiannya dalam
keseluruhan kegiatan belajar?
5) Hasil yang terbaik akan diperoleh
dengan menggunakan multi media.
e.
Prinsip Yang Berkenaan
Dengan Penilaian
Penilain merupakan bagian yang tidak
terpisahkan dari pembelajaran. Setidaknya ada tiga fase yang harus diperhatikan
ketika merencanakan alat penilaian, menyusun alat penilaian, dan pengelolaan
hasil penilaian. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam fase perencanaan
penilaian yaitu:
1) Bagaimanakah karakteristik kelas,
usia, tingkat kemampuan kelompok yang akan di tes?
2) Berapa lama waktu yang diperlukan untuk
pelaksanaan tes?
3) Apakah tes tersebut berbentuk uraian
atau pilihan?
4) Berapa banyak butir tes yang perlu
disusun?
5) Apakah tes tersebut
diadministrasikan oleh guru atau murid?
Dalam
penyusunan alat penilaian sebaiknya mengikuti langkah-langkah berikut:
1) Rumusan tujuan-tujuan pendidikan
yang umum, dalam ranah kognitif, afektif, dan psikomotor.
2) Uraikan ke dalam bentuk tingkah laku
murid yang dapat diamati.
3) Hubungkan dengan bahan pelajaran.
4) Tuliskan bitir-butir tes
Beberapa
prinsip yang harus diperhatikan dalam pengelolaan hasil penilaian. Norma penilaian apa yang akan
digunakan dalam pengelolaan hasil tes.
1) Apakah digunakan
formula guessing?
2) Bagaimana pengubahan skor ke dalam
skor masak?
3) Skor standard apa yang akan
digunakan?
4) Untuk apakah hasil tes digunakan?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar