“Kurang cerdas
dapat diperbaiki dengan belajar,
Kurang cakap dapat
dihilangkan dengan pengalaman,
Namun Tidak Jujur
itu sulit diperbaiki.” [bung Hatta]
Pancasila dan UUD 1945 adalah jiwa,
kepribadian, dan filsafat hidup sekaligus cita-cita sosial politik bangsa
Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur. Esensi Pancasila
adalah objektivikasi ajaran dan cita-cita politik negara bangsa yang menganut
monoteisme, bukan politeisme apalagi ateisme.
Katakanlah:
“Hai ahli kitab, marilah (berpegang) kepada suaru kalimat (ketetapan) yang
tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kami sembah selain
Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula)
sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah”. Jika
mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah
orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”. (Qs. Al Imran [3]: 64)
Batasan
relasi agama dan negara mengacu pada prinsip ”Ketuhanan berdasarkan kemanusiaan
yang adil dan beradab.” Dengan kata lain, sila Ketuhanan Yang Maha Esa yang bersifat monoteistik tidak
menghilangkan hak warga negara yang tidak sepaham. Eksistensi negara kepulauan
Indonesia diperkuat oleh sitem budaya maritim dan budaya dagang antar pulau
yang sudah melekat pada jati diri bangsa. Indonesia merupakan keberlanjutan
dari warisan historis tradisi kekuasaaan dan kebudayaan yang terdiri dari beragam agama, etnis, suku bangsa, golongan
dan bahasa.
RESTORASI INDONESIA
Bangsa
Indonesia menjadi bangsa dengan warisan sejarah dan budaya yang kosmopolit,
yang menghimpun hampir semua kebudayaan besar dunia- India, Arab, Persia, Cina,
dan Eropa. Pada abad ke-20 pengumulan antar arus peradaban islam, India, Cina,
dan Eropa mengalami gelombang pasang dengan kesadaran kebangsaan
Pada masa
Orde baru, kekayaan budaya tradisional ini secara diplomatik dipertunjukan
secara apik dengan kemasan pariwisata, di Taman Mini Indonesia (TMII) Jakarta. Pada
era reformasi kebangkitan umat islam memiliki peluang besar dengan dibukanya
kebebasan. Kebangkitan esensial itu dimulai dari Masjid yang menjalankan misi
profetis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar