Pendekatan Induktif
Contoh:
Pola Bilangan
Selidiki
Jumlah 1 + 3 + 5 + 7 + 9 + 11 + ....
Banyaknya
Himpunan Bagian Suatu Himpunan
Buktikan
Untuk Pembuktian ini dapat dilakukan dengan cara modus
ponens, modus tolens, implikasi positifm kontra positif, kontra contoh, bukti
tidak langsung, dan induksi matematika
(Ruseffendi, 1992)
Pendekatan SPIRAL
Konsep mula-mula dikenalkan dengan cara dan dalam bentuk
sederhana yang makin lama makin kompleks dan dalam bentuk abstrak.
Contoh:
Di kelas 3 SD : dikenalkan dengan perbandingan luar
permukaan benda denga bangun persegi atau persegi panjang, menghitung luas
daerah persegi dan persegi panjang dengan membilang petak persegi.
Di Kelas IV SD : menghitung luas persegi dan persegi
panjang dengan membilang petak persegi satuan (ulangan) , dilanjutkan dengan
cara mengalikan banyak petak persegi pada kolom dan baris, dan dikenal rumus luas persegi dan persegi panjang dan
satuan bakunya.
Di kelas VI SD: mulai dikenalkan luas jajaran genjang
dengan membandingkan luas persegi panjang yang tinggi dan alasnya sama, dikenalkan
rumus lingkaran dan penggunaannya.
Di SMP kelas 1 : mengingat kembali mengenai luas persegi
dan persegi panjang (ulangan), dilanjutkan menentukan luas bidang kubus dan
balok/
dst
Pendekatan Analitik
Pendekatan analitik : Pembahasan bahan pelajaran bisa dimulai dari hal yang
tidak bisa diketahui sampai kepada yang sudah diketahui atau sebaliknya dari
yang sudah diketahui menghasilkan apa yang ingin diketahui.
Bila prosedur yang ditempuh adalah dari apa yang belum
diketahui ke yang sudah diketahui, maka dikatakan menggunakan pendekatan
analitik. Pada pendekatan analitik, masalah yang ingin diselesaikan perlu
dipecah-pecah hingga jelas hubungan antara bagian-bagian yang belum diketahui
dengan yang sudah diketahui.
Dimulai dengan langkah dari hal yang tidak diketahui
dicari langkah-langkah selanjutnya yang mengaitkan hal yang belum diketahui
hingga sampai ke hal yang sudah diketahui, urutan langkah itu akhirnya
mendapatkan apa yang dikehendaki. Kekuatan pendekatan ini adalah pendekatan
yang logis dan meyakinkan. Tiap langkah yang dilakukan selalu beralasan, hingga
pemahaman dapat tercapai.
Kelemahan pendekatan ini adalah tidak semua bahan
pelajaran dapat diajarkan dengan pendekatan analitik dan kadang-kadang
pembahasan dengan pendekatan analitik memerlukan prosedur yang panjang.
Pendekatan Sintetik
Pendekatan sintetik merupakan kebalikan dari
pendekatan analitik. Jadi pada pendekatan sintetik pembahasan mulai dari yang
diketahui ke yang diketahui langkah-langkah secara berurut ditempuh dengan
mengkaitkan hal yang diketahui dengan hal-hal lain yang diperlukan dan tidak
diketahui dari soal, hingga akhirnya apa yang tidak dicari dapat ditemukan.
Kelemahan pendekatan ini adalah pendekatan sintetik
tidak menjamin pengertian murid mengenai bahan yang dipelajari. Seorang murid
yang benar menyelesaikan soal tertentu dengan benar, mungksin saja hanya karena
ia hafal langkah-langkah yang harus ditempuhnya tanpa memiliki pengertian. Jika
demikian, menghafal langkah-langkah penyelesaian berbagai macam soal makin lama
akan menjadi beban yang makin berat. Bila murid itu harus menyelesaiakan sebuah
bentuk soal dan lupa langkah-langkah yang dihafalkannya, maka ia akan gagal
menyelesaiakannya. Sedang murid yang memiliki pengertian, jika lupa masih dapat
menemukan lagi langkah-langkah itu
Pendekatan Intuitif
cara intuitif contoh-contoh yang diberikan biasanya
berbentuk permainan, keadaan, atau persoalan sehari-hari yang menarik yang
memuat konsep matematika yang akan diajarkan.
Kekuatan pendekatan ini adalah lebih menarik minat
belajar murid karena diperkenalkan melalui contoh-contoh keadaan sehari-hari
dalam kehidupannya. Kelemahan pendekatan ini adalah lebih banyak menyita waktu.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar