"Jika orang lain selalu salah dimatamu. Mungkin ada yang harus diperbaiki dengan hatimu,"
Kamis, 29 Oktoberr 2015, dua pekan
lalu, Pendidikan Matematika Kelas 1c kembali lagi menampilkan diskusi yang
mengundang argument dari audiences pada mata kuliah Pendidikan Pancasila. Pada kesempatan
kali ini, diskusi membahas tentang Pancasila
Sebagai Etika Politik dan Ideologi Negara, dan kelompok 4 yang beranggotakan
Eva Noviyanti, Khoiru Ummah Fatimah, dan Siti Munawaroh yang mendapat
kehormatan sebagai kelompok pemateri. Diskusi ini berlangsung di UNTIRTA kampus
A gedung D lantai 4 ruang 20 pukul 10.30-13.00 WIB.
Penyajian materi pada kali ini
memang sedikit membosankan bahkan tak sedikit audiences yang menguap
disela-sela presentasi. Hal utama yang menjadi penyebabnya adalah cara pemateri
menyajikan materi, selama presentasi pemateri terlihat lebih focus pada catatan
yang dipegang dan audiences seperti tidak dianggap kehadirannya. Selain itu
slide yang ditampilkan seperti tidak disaring terlebih dahulu, banyak hal-hal
yang bukan inti materi ditampilkan dan dalam satu slide dipenuhi oleh teks seutuhnya. Walaupun demikian, antusias
audiences tetap tinggi, hal ini dibuktikan dengan banyaknya penannya dan
penambah dalam diskusi. Namun hanya 3 orang yang mendapat kesempatan untuk
bertanya. Tiga orang yang beruntung tersebut adalah Alfi Jahroina, Davi
Ariyanti, dan Khayatus Sa’adah.
Khayatus Sa’adah berkesempatan
untuk yang pertama kali mengajukan pertanyaan, ia bertanya mengenai bentuk dari
fleksibel yang merupakan salah satu
ciri-ciri ideology terbuka. Kemudian dilanjutkan oleh pertanyaan ke dua
dari Davi Ariyanti, dimana ia bertanya mengenai maksud dan bentuk dari
pembenaran atas pengorbanan-pengorbanan yang dibebankan kepada masyarakat dalam
pengertian ideology tertutup. Pertanyaaan ketiga atau pertanyaan terakhir adalah
mengenai solusi dan cara efektif menghadapi ketidaksiapan bangsa Indonesia
terhadap pengaruh globalisasi. Semua pertanyaan ditampung terlebih dahulu dan
kemudian didiskusikan oleh pemateri guna mendapatkan jawaban yang tepat.
Pemateri yang diwakili oleh Siti Munawaroh
pertama-tama menjawab pertanyaan dari Davi Ariyanti. Ia menyebutkan bahwa
Ideologi terbuka adalah ideologi yang berasal dari nilai-nilai budaya, kekayaan rohani, moral dan sifatnya
tidak dipaksakan sehingga ideologi ini terbuka milik seluruh rakyat, dan masyarakat terutama
dalam menemukan
dirinya
dan kepribadiannya
didalam ideologi tersebut. Contohnya, masyarakat ideologi ini
menerima masuknya budaya asing kedalam budaya masyarakat. Sedangkan, dalam
ideologi tertutup masyarakat tidak diperkenankan untuk menerima perkembangan
budaya asing, sehingga bisa kita simpulkan bahwa salah satu keuntungan
mengikuti perkembangan zaman pada budaya asing yang masuk seraya akan membentuk
masyarakat yang mandiri, modern dan mampu bersaing dalam lingkup internasional.
Sedangkan, dalam sistem ideologi tertutup yang seperti itu akan merugikan
masyarakat itu sendiri. Itulah yang dimaksud dengan pengorbanan yang
membebankan masyarakat. Pendapat pemateri mendapat sanggahan dari Davi, dimana
ia mempertanyakan tentang negara Korea Utara sebagai penganut ideology tertutup
tetapi masih mampu mengikuti perkembangan zaman dan mengikuti ajang
internasional. Sanggahan ini langsung mendapat tanggapan dari audiences lain,
lebih tepatnya oleh Yusuf Ramdani. Ia menjelaskan bahwa ada beberapa hal yang
memang diperbolehkan untuk berkembang, artinya dapat berinteraksi dengan negara
lain dan ada hal yang juga memang ditutup atau dijalankan sendiri. Ditambah
seiring perkembangan zaman mereka sadar akan kepentingan dalam menjalin hubungan
antarnegara maka dibukalah beberapa hal yang dapat dikembangkan atau diterima. Selanjutnya
jawaban pertanyaan ini disimpulkan oleh dosen, Pak Oka, yang menerangkan bahwa
ideologi tertutup itu bukan berarti ia menutup diri untuk berinteraksi dengan
yang lain, melainkan hanya beberapa hal yang dijalankan secara sendiri sesuai
dengan aturannya yang berlaku. Seperti, yang dijelaskan di negara Korea Utara
tidak semua aspek dijalankan dengan sendiri, namun ada beberapa aspek yang
mengikuti perkembangan zaman sehingga tidak terlalu menutup terhadap
globalisasi.
Setelah
selesai dengan pertanyaan Davi, Pemateri yang selanjutnya diwakili oleh Khoiru
Ummah Fatimah menjawab pertanyaan dari Khayatus Sa’adah. Ia menerangkan bahwa ideologi
dikatakan terbuka apabila pada dirinya memiliki unsur fleksibelitas. Unsur ini
mencerminkan adanya kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan pertumbuhan, dan
perkembangan masyarakat. Contohnya jika nanti suatu saat ada agama yang baru
masuk ke dalam negara Indonesia, akan diperbolehkan dengan syarat agama tersebut
tidak menyalahkan aturan yang ada dinegara ini atau yang disebut dengan nilai-nilai
yang ada di dalam pancasila. Yusuf Ramdani kembali lagi bersuara, namun kali
ini ia menanyakan tentang penolakan Negara Indonesia terhadap agama yang dibawa
oleh Lia Edden. Pertanyaan ini langsung mendapat tanggapan dari audiences lain
yaitu Winda Afriyanti, ia berpendapat bahwa Negara Indonesia menganut ideologi
terbuka yang memiliki sifat fleksibelitas, namun mempunyai nilai-nilai dalam Pancasila,
sehingga ada penyaringanya; maksudnya yang menyalahi aturan dan membawa
pengaruh buruk terhadap Indonesia tidak dapat diterima dan ditolak dengan cara
baik-baik. Pendapat Winda ini mendapat pembenaran dari dosen, Pak Oka, yang
kemudian menambahkan dengan mengulang pendapat dari Winda.
Pertanyaan
terakhir yang berasal dari Alfi Jahroina mengenai solusi dan cara efektif menghadapi ketidaksiapan
bangsa Indonesia terhadap pengaruh globalisasi ini dijawab pemateri yang
diwakili oleh Eva Noviyanti. Dalam pemaparannya Eva menyebutkan bahwa Istilah
Globalisasi bermakna sebagai suatu peristiwa yang terjadi dalam suatu Negara
tertentu yang tersebar dengan cepat ke seluruh pelosok dunia sehingga
seakan-akan tak menghiraukan batasan-batasan. Salah satu media penyebaran
tersebut adalah dengan melalui internet. Semua orang bebas mengakses dan
mencari berbagai informasi yang ada. Lalu sebab Indonesia masih dikatakan belum siap dengan globalisasi
adalah karena masih banyak masyarakat Indonesia yang belum menyadari akan
dampak globalisasi secara nyata sehingga masih banyak di kalangan masyarakat
yang menyalahgunakan media tersebut yang berdampak pada masyarakat itu sendiri
yaitu rusaknya moral, nilai-nilai, dan norma penerus bangsa. Untuk itu kita
harus selektif dalam menerima berbagai informasi yang ada. Untuk keluar dari
masalah tersebut kita harus mengerti dan memahami apakah yang dimaksud moral,
norma, dan nilai-nilai pancasila karena ketiga nya berkaitan akan terciptanya
etika politik yang baik. Pancasila ditetapkan oleh pendiri bangsa memuat
nilai-nilai luhur yang mendalam yang menjadi pandangan hidup dan dasar Negara.
Selain itu perlu adanya kerjasama yang baik antara pemerintah dan warga Negara
agar etika politik berjalan dengan semestinya. Seusai pemaparan Eva, dosen, Pak
Oka menambahkan bahwa untuk keluar dari masalah tersebut yaitu dengan adanya
kerjasama antara pemerintah dengan warga Negara. Apabila sering kita lihat di
TV bahwa ada anggota Dewan yang tidur saat rapat, itu bisa diatasi dengan
memberikan surat peringatan agar etika politik berjalan dengan baik.
Pada
akhir presentasi pemateri menyimpulkan bahwa Pembangunan moral politik yang bebudaya adalah untuk
melahirkan kultur politik yang berdasarkan kepada iman dan takwa tehadap tuhan
yang maha kuasa, menggalang susasana kasih sayang sesama manusia Indonesia,
yang berbudi kemanusiaan luhur. Selain itu Pancasila sebagai ideologi negara
Indonesia mengandung makna sebagai pemikiran-pemikiran dasar yang harus
mengedepankan negara.
Terlepas
dari segala kekurangan pemateri mengenai penyampaian dan penyajiannya,
penampilan kelompok 4 pantas mendapat apresiasi atas kelengkapan materi yang
disampaikan. Semoga kelak dapat memperbaiki segala yang masih kurang dan
mempertahankan segala yang sudah bagus.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar