Senin, 05 Desember 2016

Diskusi Pancasilaku

"Jika orang lain selalu salah dimatamu. Mungkin ada yang harus diperbaiki dengan hatimu,"

Kamis, 29 Oktoberr 2015, dua pekan lalu, Pendidikan Matematika Kelas 1c kembali lagi menampilkan diskusi yang mengundang argument dari audiences pada mata kuliah Pendidikan Pancasila. Pada kesempatan kali ini, diskusi membahas tentang  Pancasila Sebagai Etika Politik dan Ideologi Negara, dan kelompok 4 yang beranggotakan Eva Noviyanti, Khoiru Ummah Fatimah, dan Siti Munawaroh yang mendapat kehormatan sebagai kelompok pemateri. Diskusi ini berlangsung di UNTIRTA kampus A gedung D lantai 4 ruang 20 pukul 10.30-13.00 WIB.
Penyajian materi pada kali ini memang sedikit membosankan bahkan tak sedikit audiences yang menguap disela-sela presentasi. Hal utama yang menjadi penyebabnya adalah cara pemateri menyajikan materi, selama presentasi pemateri terlihat lebih focus pada catatan yang dipegang dan audiences seperti tidak dianggap kehadirannya. Selain itu slide yang ditampilkan seperti tidak disaring terlebih dahulu, banyak hal-hal yang bukan inti materi ditampilkan dan dalam satu slide dipenuhi oleh teks  seutuhnya. Walaupun demikian, antusias audiences tetap tinggi, hal ini dibuktikan dengan banyaknya penannya dan penambah dalam diskusi. Namun hanya 3 orang yang mendapat kesempatan untuk bertanya. Tiga orang yang beruntung tersebut adalah Alfi Jahroina, Davi Ariyanti, dan Khayatus Sa’adah.
Khayatus Sa’adah berkesempatan untuk yang pertama kali mengajukan pertanyaan, ia bertanya mengenai bentuk dari fleksibel yang merupakan salah satu  ciri-ciri ideology terbuka. Kemudian dilanjutkan oleh pertanyaan ke dua dari Davi Ariyanti, dimana ia bertanya mengenai maksud dan bentuk dari pembenaran atas pengorbanan-pengorbanan yang dibebankan kepada masyarakat dalam pengertian ideology tertutup. Pertanyaaan ketiga atau pertanyaan terakhir adalah mengenai solusi dan cara efektif menghadapi ketidaksiapan bangsa Indonesia terhadap pengaruh globalisasi. Semua pertanyaan ditampung terlebih dahulu dan kemudian didiskusikan oleh pemateri guna mendapatkan jawaban yang tepat.
Pemateri yang diwakili oleh Siti Munawaroh pertama-tama menjawab pertanyaan dari Davi Ariyanti. Ia menyebutkan bahwa Ideologi terbuka adalah ideologi yang berasal dari nilai-nilai budaya, kekayaan rohani, moral dan sifatnya tidak dipaksakan sehingga ideologi ini terbuka milik seluruh rakyat, dan masyarakat terutama dalam menemukan dirinya dan kepribadiannya didalam ideologi tersebut. Contohnya, masyarakat ideologi ini menerima masuknya budaya asing kedalam budaya masyarakat. Sedangkan, dalam ideologi tertutup masyarakat tidak diperkenankan untuk menerima perkembangan budaya asing, sehingga bisa kita simpulkan bahwa salah satu keuntungan mengikuti perkembangan zaman pada budaya asing yang masuk seraya akan membentuk masyarakat yang mandiri, modern dan mampu bersaing dalam lingkup internasional. Sedangkan, dalam sistem ideologi tertutup yang seperti itu akan merugikan masyarakat itu sendiri. Itulah yang dimaksud dengan pengorbanan yang membebankan masyarakat. Pendapat pemateri mendapat sanggahan dari Davi, dimana ia mempertanyakan tentang negara Korea Utara sebagai penganut ideology tertutup tetapi masih mampu mengikuti perkembangan zaman dan mengikuti ajang internasional. Sanggahan ini langsung mendapat tanggapan dari audiences lain, lebih tepatnya oleh Yusuf Ramdani. Ia menjelaskan bahwa ada beberapa hal yang memang diperbolehkan untuk berkembang, artinya dapat berinteraksi dengan negara lain dan ada hal yang juga memang ditutup atau dijalankan sendiri. Ditambah seiring perkembangan zaman mereka sadar akan kepentingan dalam menjalin hubungan antarnegara maka dibukalah beberapa hal yang dapat dikembangkan atau diterima. Selanjutnya jawaban pertanyaan ini disimpulkan oleh dosen, Pak Oka, yang menerangkan bahwa ideologi tertutup itu bukan berarti ia menutup diri untuk berinteraksi dengan yang lain, melainkan hanya beberapa hal yang dijalankan secara sendiri sesuai dengan aturannya yang berlaku. Seperti, yang dijelaskan di negara Korea Utara tidak semua aspek dijalankan dengan sendiri, namun ada beberapa aspek yang mengikuti perkembangan zaman sehingga tidak terlalu menutup terhadap globalisasi.


Setelah selesai dengan pertanyaan Davi, Pemateri yang selanjutnya diwakili oleh Khoiru Ummah Fatimah menjawab pertanyaan dari Khayatus Sa’adah. Ia menerangkan bahwa ideologi dikatakan terbuka apabila pada dirinya memiliki unsur fleksibelitas. Unsur ini mencerminkan adanya kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan pertumbuhan, dan perkembangan masyarakat. Contohnya jika nanti suatu saat ada agama yang baru masuk ke dalam negara Indonesia, akan diperbolehkan dengan syarat agama tersebut tidak menyalahkan aturan yang ada dinegara ini atau yang disebut dengan nilai-nilai yang ada di dalam pancasila. Yusuf Ramdani kembali lagi bersuara, namun kali ini ia menanyakan tentang penolakan Negara Indonesia terhadap agama yang dibawa oleh Lia Edden. Pertanyaan ini langsung mendapat tanggapan dari audiences lain yaitu Winda Afriyanti, ia berpendapat bahwa Negara Indonesia menganut ideologi terbuka yang memiliki sifat fleksibelitas, namun mempunyai nilai-nilai dalam Pancasila, sehingga ada penyaringanya; maksudnya yang menyalahi aturan dan membawa pengaruh buruk terhadap Indonesia tidak dapat diterima dan ditolak dengan cara baik-baik. Pendapat Winda ini mendapat pembenaran dari dosen, Pak Oka, yang kemudian menambahkan dengan mengulang pendapat dari Winda.
Pertanyaan terakhir yang berasal dari Alfi Jahroina mengenai solusi  dan cara efektif menghadapi ketidaksiapan bangsa Indonesia terhadap pengaruh globalisasi ini dijawab pemateri yang diwakili oleh Eva Noviyanti. Dalam pemaparannya Eva menyebutkan bahwa Istilah Globalisasi bermakna sebagai suatu peristiwa yang terjadi dalam suatu Negara tertentu yang tersebar dengan cepat ke seluruh pelosok dunia sehingga seakan-akan tak menghiraukan batasan-batasan. Salah satu media penyebaran tersebut adalah dengan melalui internet. Semua orang bebas mengakses dan mencari berbagai informasi yang ada. Lalu sebab Indonesia  masih dikatakan belum siap dengan globalisasi adalah karena masih banyak masyarakat Indonesia yang belum menyadari akan dampak globalisasi secara nyata sehingga masih banyak di kalangan masyarakat yang menyalahgunakan media tersebut yang berdampak pada masyarakat itu sendiri yaitu rusaknya moral, nilai-nilai, dan norma penerus bangsa. Untuk itu kita harus selektif dalam menerima berbagai informasi yang ada. Untuk keluar dari masalah tersebut kita harus mengerti dan memahami apakah yang dimaksud moral, norma, dan nilai-nilai pancasila karena ketiga nya berkaitan akan terciptanya etika politik yang baik. Pancasila ditetapkan oleh pendiri bangsa memuat nilai-nilai luhur yang mendalam yang menjadi pandangan hidup dan dasar Negara. Selain itu perlu adanya kerjasama yang baik antara pemerintah dan warga Negara agar etika politik berjalan dengan semestinya. Seusai pemaparan Eva, dosen, Pak Oka menambahkan bahwa untuk keluar dari masalah tersebut yaitu dengan adanya kerjasama antara pemerintah dengan warga Negara. Apabila sering kita lihat di TV bahwa ada anggota Dewan yang tidur saat rapat, itu bisa diatasi dengan memberikan surat peringatan agar etika politik berjalan dengan baik.
Pada akhir presentasi pemateri menyimpulkan bahwa Pembangunan moral politik yang bebudaya adalah untuk melahirkan kultur politik yang berdasarkan kepada iman dan takwa tehadap tuhan yang maha kuasa, menggalang susasana kasih sayang sesama manusia Indonesia, yang berbudi kemanusiaan luhur. Selain itu Pancasila sebagai ideologi negara Indonesia mengandung makna sebagai pemikiran-pemikiran dasar yang harus mengedepankan negara.

Terlepas dari segala kekurangan pemateri mengenai penyampaian dan penyajiannya, penampilan kelompok 4 pantas mendapat apresiasi atas kelengkapan materi yang disampaikan. Semoga kelak dapat memperbaiki segala yang masih kurang dan mempertahankan segala yang sudah bagus.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar