Senin, 05 Desember 2016

Diskusi Pancasila Dalam Konteks Sejarah Perjuangan Bangsa

"Tujuan hidup yang tidak tercapaibukanlah tragedi kehidupan. Yang menjadi tragedi kehidupan adalah tidak memiliki tujuan hidup"[Benjamin Mays]
Sejarah telah mengungkapkan bahwa Pancasila adalah jiwa seluruh rakyat Indonesia, yang memberi kekuatan hidup kepada bangsa Indonesia serta membimbingnya dalam mengejar kehidupan lahir batin yang makin baik, di dalam masyarakat Indonesia yang adil dan makmur. Setiap warga Negara Indonesia harus mempelajari, mendalami, menghayati, dan mengamalkannya dalam segala bidang kehidupan. Pancasila sebagaimana tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 dalam perjalanan sejarah kemerdekaan bangsa Indonesia telah mengalami penyimpangan sesuai dengan kepentingan rezim yang berkuasa. Pancasila telah digunakan sebagai alat untuk memaksa rakyat setia kepada pemerintah yang berkuasa dengan menempatkan pancasila sebagai satu-satunya asas dalam kehidupan bermasyarakat. Oleh karena itu, alangkah pentingnya generasi sekarang untuk mempelajari nilai-nilai Pancasila agar memahami fungsi Pancasila yang sesungguhnya dan tak disalah gunakan.
Pendidikan Pancasila sesungguhnya bertujuan membantu mahasiswa dalam proses belajar, proses berpikir, memecahkan masalah, dan mengambil keputusan dengan berlandaskan nilai-nilai Pancasila. Mata Kuliah Pendidikan Pancasila yang merupakan mata kuliah wajib bagi prodi Pendidikan Matematika kelas 1c Universitas Sultan Ageng Tirtayasa telah memberi warna baru dalam proses belajar mengajar, dalam prosesnya dosen, Pak Oka, secara tidak langsung telah membangun keberanian para mahasiswa untuk mengutarakan pendapat dan menjadikan mahasiswa lebih teliti dalam mengerjakan tugas. Hal ini dapat tercermin dalam presentasi yang dilakukan pada hari Selasa tanggal 20 Oktober 2015 oleh kelompok 4 dengan materi bahasan mengenai Pancasila dalam Konteks Sejarah Perjuangan Bangsa. Pemateri terdiri atas tiga orang, yaitu Nor Rizqa Fatimah, Robby Firmansyah, dan Sifa Irma Damayanti. Walau dalam proses presentasi pemateri terlihat kurang menguasai materi dan materi yang ditampilkan dalam Power Point tidak dapat dilihat dengan jelas karena adanya kesalahan dalam pemilihan background, audiences tetap dapat menerima dan memahami materi yang ingin disampaikan oleh pemateri. Hal ini terbukti dengan banyaknya mahasiswa yang ingin mengajukan pertanyaan mengenai materi tersebut, namun penanya hanya dibatasi hingga tiga orang, sehingga terpilih Ita Mafajatul Aliah, Mastur, dan Roselina Dewi. Setiap pertanyaan ditampung terlebih dahulu, kemudian didiskusikan oleh pemateri, jika sudah menemukan jawaban barulah diutarakan kepada audiences dan penanya.
Pertanyaan pertama diutarakan oleh Ita, yaitu mengenai penerapan dan contoh nilai sosial dan politik pada masa kerajaan kutai di Indonesia yang masih ada pada saat ini. Pemateri sempat menemukan kesulitan dalam memberi jawaban bahkan sempat meminta bantuaan kepada audiences, sayangnya ditolak. Akhirnya pemateri diwakili oleh Nor Rizqa Fatimah memberi jawaban bahwa kehidupan sosial pada masa kerajaan kutai menerima atau mengadaptasi pola pemerintahan dari India. Sedangkan, kehidupan politik pada masa kerajaan kutai menganut sistem pemerintahan yang masih turun-temurun. Jadi menurut pemateri, sudah tidak diterapkan di Indonesia karena Indonesia telah memiliki dasar negara sendiri yaitu Pancasila dan Indonesia menganut sistem demokrasi yaitu untuk memilih presiden, melalui voting atau pemilu. Jawaban ini dirasa cukup memuaskan oleh penanya, namun seperti ada yang kurang, ada sesuatu yang dirasa perlu dijelaskaan. Sehingga dari pertanyaan dan jawaban tersebut, dosen, Pak Oka, memberi penjelasan guna meluruskan apa-apa yang dirasa menyimpang atau tidak benar. Menurutnya, sebenarnya di Indonesia masih terdapat nilai sosial politik kerajaan kutai, hal ini berdasarkan prasasti-prasasti yang ditemukan, bahwa raja pernah memberikan hadian kepada pemuka agama yang berarti dalam hubungan yang baik atau akur dan masih akur antara pemerintah dengan pemuka agama seperti halnya Indonesia saat ini. Sebagai contohnya, ketika akan menentukan awal bulan puasa, pemerintah mengadakan sidang dengan pemuka agama Islam. Kemudian untuk nilai politik di Indonesia, beberapa masih terjadi seperti kerajaan kutai yaitu turun temurun. sebagai contohnya di Cilegon, Bupati Cilegon sekarang adalah anak dari Bupati Cilegon sebelumnya, walaupun pemilihan dilakukan dengan cara voting atau pemilu.
Pertanyaan kedua diutarakan oleh Mastur, dimana ia bertanya mengenai sebab lamanya masa orde lama meski terjadi banyak penyimpangan. Pemateri yang diwakili oleh Robby Firmansyah terlihat kesulitan memberi jawaban sehingga hanya mampu memberi salah satu contoh penyimpangan yang terjadi pada masa orde lama, yaitu mengenai pengangkatan presiden seumur hidup tanpa ada penjelasan. Jawaban ini sangat tidak memuaskan bahkan mungkin tidak dapat disebut sebagai jawaban. Kemudian pemateri memberi kesempatan bagi audiences yang ini menambahkan jawaban yang masih sangat kurang dari pemateri. Yusuf Ramdani yang merupakan mahasiswa yang kritis terhadap suatu permasalahan tidak membuang kesempatan ini, ia menambahkan bahwa pada masa  orde lama memang terjadi penyimpangan-penyimpangan di akhir masa jabatan Seokarno, yaitu adanya keputusan jabatan Presiden seumur hidup, kemudian adanya penerapan konsep Nasionalisme, Agama, dan Komunis (Nasakom), adanya jabatan rangkap sehingga masa orde lama itu berlangsung lama, orde lama baru berakhir setelah adanya pemberontakan PKI yang menimbulkan Gerakan 30 September. Adapun winda Afriyanti yang menambahkan bahwa lamanya masa orde lama disebabkan oleh rasa kepercayaan rakyat yang tinggi kepada Soekarno. Rakyat hanya mengerti bahwa Soekarno adalah Bapak Proklamator dan pahlawan bangsa yang membebaskan rakyat dari belenggu penjajah. Mereka tidak tahu dan tidak mau tahu mengenai politik yang dilakukan oleh Soekarno sejauh itu tidak menyengsarakan rakyat. Dua tambahan ini dianggap sebagai tambahan pengetahuan bagi pemateri, karena pemateri sebenarnya tidak mengetahui menegnai hal tersebut. Dari pembahasan tentang pertanyaan ini, dosen, Pak Oka, menjadi penengah yang memberikan penjelasan bahwa pada intinya penyimpangan terjadi pada akhir-akhir masa jabatan Seokarno, dimana masyarakat Indonesia masih belum sadar akan politik di Indonesia dan pergantian sistem politik yang terjadi berkali-kali.
Pertanyaan ketiga diutarakan oleh Roselina Dewi, dimana ia bertanya mengenai alasan wakil Presiden mengeluakan Maklumat No. X tanggal 16 Oktober 1945 yang menghentikan kekuasaan luar biasa dari Presiden. Pemateri yang diwakili oleh Sifa Irma Damayanti kurang dapat memberi jawaban yang dapat dimengerti oleh audiences, dan disebabkan oleh keterbatasan waktu pertanyaan ini langsung saja dijelaskan oleh dosen, Pak Oka, dimana beliau memberi penjelasan bahwa alasan keluarnya maklumat tersebut  adalah adanya desakan dari Sultan Syahrir yang menjabat sebagai ketua KNIP dan dengan posisi tersebut ia mengajak wakil presiden untuk mengikuti idenya, dikarenakan visi dan misi Sultan Syahrir dan Moh. Hatta sama, maka KNIP meminta wakil presiden mengeluarkan maklumat untuk mengubah sistem pemerintahan yang awalnya presidensial menjadi sistem pemerintahan parlementer agar tidak semua kekuasaan berada ditangan presiden.
Pada akhir presentasi, pemateri memberikan kesimpulan dari materi yang telah disampaikan dan didiskusikan oleh audiences, dosen, dan pemateri sendiri, pemateri menyimpulkan bahwa Pancasila bukan lahir secara mendadak pada tahun 1945, melainkan telah melalui proses yang panjang, dimatangkan oleh sejarah perjuangan bangsa Indonesia, dengan melihat pengalaman bangsa-bangsa lain, dengan diilhami oleh gagasan-gagasan besar dunia, dengan tetap berakar pada kepribadian bangsa Indonesia dan gagasan-gagasan besar bangsa Indonesia sendiri. Bangsa Indonesia lahir menurut cara dan jalan yang ditempuhnya sendiri yang merupakan hasil antara proses sejarah di masa lampau, tantangan perjuangan dan cita-cita hidup di masa datang, yang secara keseluruhan membentuk kepribadiannya sendiri. Sebab itu bangsa Indonesia lahir dengan kepribadiaannya sendiri, yang bersamaan dengan lahirnya bangsa dan negara itu, kepribadian itu ditetapkan sebagai pandangan hidup dan dasar negara, “Pancasila”.

Diskusi ini cukup memberi gambaran bagaimana proses Pendidikan Pancasila berlangsung dalam Perguruan Tinggi. Dimana setiap permasalahan yang muncul dapat didiskusikan jalan keluarnya dengan menerapkan nilai-nilai Pancasila tanpa adanya kekerasan maupun permusuhan di masa yang akan datang.

1 komentar: