Sabtu, 31 Desember 2016
Indonesia dan Televisinya
Kemajuan IPTEKS membawa arus globalisasi lebih deras masuk ke negeri tercinta ini, Indonesia. Dampaknya sangat terlihat dari kecepatan bertukar informasi. Salah satu alat informasi yang masih mengakar adalah televisi. Keberadaanya kini menjadi kebutuhan primer dalam keluarga. Tidak dapat dipungkiri informasi yang ditanyangkan televisi menjadi salah satu bahan diskusi dikalangan masyarakat. Maka apa saja yang menjadi bahan pemberitaan televisi hendaknya memperhatikan etika jurnalistik. Namun sangat disayangkan, pemberitaan di televisi Indonesia lebih mengacu pada pemberitaan negatif, seperti kasus korupsi, kriminalitas, bahkan kehidupan rumah tangga selebritis. Tidak masalah jika pemberitaan masih dalam batas wajar atau sekedar memberitahu kepada masyarakat. Tapi pemberitaan ditelevisi Indonesia sudah melebihi minat para penontonnya.
Menurut pengamatan yang penulis peroleh terhadap penayangan berita negative ditelevisi Indonesia, kasus korupsi menjadi kejahatan yang paling sering dibahas secara besar-besaran dipertelevisian Indonesia, hampir seluruh stasiun menayangkan, mengundang saksi, pakar untuk membahas kasus tersebut. Selain korupsi, salah satu kejahatan kriminal yang menjadi sorotan di tahun 2016 ini adalah kasus pembunuhan Wayan Mirna Sholihin, kasus ini dibahas secara besar-besaran, bahkan sidang Jessica Kumala Wongso terduga pelaku pun ditayangkan secara langsung oleh salah satu stasiun tv swasta. Pemberitaan ini menghiasi pertelevisian Indonesia selama kurang lebih 10 bulan, dan berakhir pada vonis bersalah kepada Jessica. Selain dua kasus tersebut, kisah cinta dan kehidupan sebebritis menjadi bahan berita yang tidak ada habisnya, terlebih bila hal tersebut negatif. Peran pertelevisian sangat penting dalam membentuk pandangan seseorang terhadap suatu masalah. Maka akan lebih baik jika pemberitaan yang ditayangkan lebih bersifat positif, dan bukan berita negatif.
Salah satu dampak berita positif adalah dapat menjadi penyemangat penonton untuk melakukan hal yang sama. Contohnya. Pemberitaan tentang masuknya Timnas Indonesia ke final piala AFF tahun 2016 atau pemberitaan mengenai siswa-siswa pintar Indonesia yang mampu bersaing dikancah dunia. Hal-hal positif seperti ini akan menjadi penyemangat untuk bisa seperti mereka. Jika suatu prestasi dibuka dan sebarkan maka akan timbul rasa iri terhadap prestasi seseorang yang kemudian akan memacu diri untuk menjadi lebih baik dan bersaing secara sehat, sehingga akan muncul prestasi-prestasi lain. hal ini aka menjadi sebaliknya bila berita yang gencar ditayangkan adalah berita negatif, maka akan banyak hal-hal negatif yang bermunculan. Seperti kasus korupsi, jika menteri yang berkedudukan tinggi saja korupsi, maka masyarakat berpikir untuk ikut korupsi, dan masih banyak hal negatif lain yang muncul sebagai akibat berita negatif.
Oleh karena itu, awali dari masing-masing pribadi utnuk terbiasa menyampaikan berita-berita baik dan benar adanya. Pemberitaan yang bersifat negatif dan ditayangkan secara berlebihan alangkah lebih baik untuk mendapat teguran dari KPI(Komisi Penyiaran Indonesia), karena hal ini salah satu cara pembodohan bangsa dan tidak sesuai dengan tujuan NKRI(Negara Kesatuan Republik Indonesai) untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar