Senin, 17 Oktober 2016

TEORI

"Sesungguhnya Allah mencintai seseorang yang beriman sekalipun ia lemah, tetapi ia produktif dan selalu menjaga dirinya(tidak mau meminta-minta) dan Allah membenci peminta-minta yang memaksa." [Tafsir Al- Qurtubi: Juz 11]

Ilmu dimulai dengan fakta dan diakhiri dengan fakta, Einstein berkata, apa pun juga teori yang menjembatani antara keduanya. Teori yang dimaksudkan di sini adalah penjelasan mengenai gejala yang terdapat dalam dunia fisik tersebut. Teori merupakan suatu abstraksi intelektual di mana pendekatan secara rasional digabungkan dengan pengalaman empiris. Artinya, teori ilmu merupakan suatu penjelasan rasional yang berkesesuaian dengan objek yang dijelaskannya. Suatu penjelasan, biar bagaimanapun meyakinkan, tetap harus didukung oleh fakta empiris untuk dapat dinyatakan dengan benar.
Teori merupakan pengetahuan ilmiah yang mencakup penejlasan mengenai suatu faktor tertentu dari sebuah disiplin keilmuan. Sebenarnya tujuan akhir dari tiap disiplin keilmuan adalah mengembangkan sebuah teori keilmuan yang besifat utuh dan konsisten, namun hal ini baru dicapai oleh beberapa dispilin keilmuan saja seperti umpamanya fisik. Bila dalam fisika saja keadaannya sudah seperti ini maka dapat dibayangkan bagaimana situasi perkembangan penjelasan teoretis pada displin-disiplin keilmuan dalam bidang sosial. Ilmu sosial pada kenyataannya terdiri dari berbagai teori yang tergabung dalam suatu disiplin keilmuan yang satu sama lain belum membentuk suatu perspektif teoretis yang bersifat umum. Teori-teori ini sering mempergunakan postulat dan asumsi yang berbeda satu sama lain.
Sebuah teori biasanya terdiri dari hukum-hukum. Hukum pada hakikatnya merupakan pernyataan yang menyatakan hubungan antara dua variabel atau lebih dalam suatu kaitan sebab akibat. Pernyataan yang mencakup hubungan sebab akibat ini, atau dengan perkataan lain hubungan kasualitas, memungkinkan kita untuk meramalkan apa yang akan terjadi sebagai akibat dari sebuah sebab. Secara mudah maka dapat kita katakan bahwa teori adalah pengetahuan ilmiah yang memberikan penejlasan tentang “mengapa” suatu gelaja-gelaja terjadi. Sedangkan hukum memberikan kemampuan kepada kita untuk meramalkan tentang “apa” yang mungkin terjadi. Pengetahuan ilmiah yang berbentuk teori dan hukum ini harus mempunyai tingkat keumuman yang tinggi, atau secara idealnya, harus bersifat universal. Dalam usaha mengembangkan tingkat keumuman yang lebih tinggi ini maka dalam sejarah perkembangan ilmu kita melihat berbagai contoh di mana teori-teori yang mempunyai tingkat keumuman yang lebih rendah disatukan dalam suatu teori umum yang mampu mengikat keseluruhan teori tersebut. Makin tinggi tingkat keumuman sebuah konsep, maka makin “teoretis” konsep tersebut. Pengertian teoretis di sini dikaitkan gejala fisik yang dijelaskan oleh konsep yang dimaksud. Artinya makin teoritis sebuah konsep maka makin jauh pernyataan yang dikandungnya bila dikaitkan dengan gejala fisik yang tampak nyata.

Di sinilah pedekatan rasional digabungkan dengan pendekatan empiris dalam langkah-langkah yang disebut metode ilmiah. Secara rasional maka ilmu menyusun pengetahuannya secara konsisten dan kumulatif, sedangkan secara empiris ilmu memisahkan antara pengetahuan yang sesuai dengan fakta dengan yang tidak. Secara sederhana maka hal ini berarti bahwa semua teori ilmiah harus memenuhi dua syarat utama yaitu 1) Harus konsisten dengan teori-teori sebelumnya yang memungkinkan tidak terjadinya kontradiksi dalam teori keilmuan secara keseluruhan: dan 2) Harus cocok dengan fakta-fakta empiris sebab teori yang bagaimanapun konsistennya sekiranya tidak didukung oleh pengujian empiris tidak dapat diterima kebenarannya secara ilmiah.

Referensi:
Adib, Mohammad. 2011. Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

[INDEX] Daftar Tugas Mata Kuliah Filsafat Pendidikan

1. Apa Pengetahuan Itu
2. You Only Live Once
3.Filsafat Tiongkok
4. Filsafat India
5. Fungsi-fungsi Bahasa
6. LOGIKA
7. HIPOTESIS
8. Hubungan antar Ilmu dan Etika
9. BANTEN DITENGAH MODERENISASI DAN GLOBALISASI
10. Beban dan Isi Kurikulum
11. Dampak Perubahan Kurikulum Terhadap Mutu Pendidikan
12. Filsafat Indonesia
13. TEORI
14. Logika Ilmu dan Metode Berpikir Ilmiah
15.Arti Hardiknas Sesungguhnya
16. Mahasiswa sebagai Manusia Pancasila
17. Diskusi Pancasila Dalam Konteks Sejarah Perjuangan Bangsa
18. Diskusi Pancasilaku
19. Diskusi Pancasilaku II
20. Hikmah beriman kepada Qada dan Qadar
21. Indonesia Indah tanpa Diskriminasi
22. Pengertian Nilai, Moral, Norma
23. Ideologi Pancasila
24. Ideologi Liberalisme
25. Ideologi Komunisme
26. Filsafat Pancasila
27. Apa itu warga negara
28. Geostrategi
29. Hak Asasi
30. Rule Of Law
31. Apakah Pesantren itu?
32. Revitalisasi Masjid
33. Pengenalan Dinul Islam
34, Masjid dan Rekayasa Sosial
35. Paradigma Tauhid
36. Pengenalan Dinul Islam 2
37. Pendidikan Berbasis Masjid
38. Masuknya Islam ke Amerika
39. Masuknya Islam ke Eropa
40. Masuknya Islam ke Asia
41. Masuknya Islam ke Asia Tenggara
42. Indonesia Merdeka
43. Hukum Islam
44. Legislasi Syari'at Islam
45. Eksistensi Syariat dalam Sistem Hukum
46. Identitas Nasional
47. Relasi Agama dan Budaya
48. Inovasi Dakwah bukan Bid'ah
49. Pancasila sebagai Kepribadian dan Identitas Nasional
50. Model Budaya Nusantara
51. Sistem Kekuasaan Negara
52. Perbedaan Syari'at dengan Fikih
53. Negara Pengurus
54. Mengenal Tasawuf
55. Badan Hukum Koperasi
56. Pendidikan Karakter Berbasis Tasawuf
57. Koperasi dalam Kebijakan Negara
58. Teori Van Hiele dalam Pengajaran Geometri
59. Teori Van Hiele dalam Pengajaran Geometri 2
60. Teori Hirarki Belajar dari Robert M.Gagne
61. Teori Belajar bermakna Menurut David P. Ausubel
62. Landasan Pengembangan Kurikulum
63. Prinsip-Prinsip pengembangan Kurikulum
64. Macam-macam Sumber Pengembangan Kurikulum
65. Hakekat Evaluasi kurikulum
66. Prinsip-prinsip Evaluasi kurikulum
67. Matematika Sekolah
68. Guru Matematika
69. Keterampilan Dasar Mengajar
70. Pengertian Model Pembelajaran
71. Model Pembelajaran Kooperatif
72. Pembelajaran RME (PMRI)
73. Metode Mengajar Matematika
74. Pemebelajaran Berdasarkan Masalah
75. Perbedaan Pendekatan, Strategi, Metode Dan Teknik Pembelajaran
76. Konsep dan Prinsip Belajar dan Pembelajaran
77. Macam-Macam Pendekatan Matematika
78. penyebab kesulitan belajar siswa
79. TIGA DOMAIN KAJIAN FILSAFAT ILMU (1)
80. TIGA DOMAIN KAJIAN FILSAFAT ILMU (2)
81. TIGA DOMAIN KAJIAN FILSAFAT ILMU (3)
82. Dasar Filsafat Pendidikan
83. Hubunagan antara Filsafat dan Pendidikan
84. Matematika sebagai Sarana Berfikir Ilmiah
85. Statistika sebagai Sarana Berfikir Ilmiah
86. SARANA BERFIKIR ILMIAH
87. FILSAFAT SEBAGAI PANDANGAN HIDUP
88. Tokoh-Tokoh Filsafat Islam dan Pemikirannya: Al-Kindi
89. Tokoh-Tokoh Filsafat Islam dan Pemikirannya: Al-Farabi
90. Tokoh-Tokoh Filsafat Islam dan Pemikirannya: Abu Ali al- Husien
91. Tokoh-Tokoh Filsafat Islam dan Pemikirannya: Al-Razi
92. Tokoh-Tokoh Filsafat Islam dan Pemikirannya: Ibnu Miskawaih
93. Tokoh-Tokoh Filsafat Islam dan Pemikirannya: Ibnu Rusyd
94. Pendekatan Prasyarat Pengetahuan dan Kemampuan
95. Perkembangan Filsafat Ilmu Pada Zaman Klasik
96. FILSAFAT BARAT ABAD PERTENGAHAN
97. Filsafat Modern
98. Filsafat Kontemporer
99. Filsafat Hidup
100. ALIRAN FILSAFAT EKSISTENSIALISME
101. FILSAFAT CINTA KAHLIL GIBRAN
102. FILSAFAT HIDUP RASULULLAH
103. TEORI BELAJAR MATEMATIKA MENURUT 23 AHLI
104. Tujuh Teori Kebenaran dalam Filsafat Ilmu
105. 15 filosofi hidup orang jawa dan maknanya
106. Filosofi apa saja sih yang dapat kita ambil dari peajaran Matematika ini?
107. Peran Logika Dalam Filsafat
108. Indonesia dan Televisinya