Matematika
sebagai bahasa
Matematika
adalah bahasa yang melambangkan serangkaian makna dari pernyataan yang ingin
kita sampaikan. Lambang-lambang matematika bersifat “artificial” yang baru
mempunyai arti setelah sebuah makna diberikan kepadanya. Tanpa itu matematika
hanya merupakan kumpulan rumus-rumus yang mati. Alfred North Whitehead
mengatakan bahwa “x itu sama sekali tidak berarti”.
Bahasa
verbal mempunyai beberapa kekurangan, untuk mengatasi kekurangan yang terdapat
pada bahasa verbal, kita berpaling kepada matematika. Dalam hal ini, kita
katakan bahwa matematika adalah bahasa yang berusaha untuk menghilangkan sifat
majemuk dan emosional dari bahasa verbal. Bahasa verbal hanya mampu mengatakan
pernyataan yang bersifat kualitatif. Sedangkan sifat kuantitatif dari
matematika merupakan daya prediktif dan control dari ilmu. Ilmu memberikan
jawaban yang lebih bersifat eksak yang memungkinkan pemecahan masalah secara
tepat dan cermat.
Contohnya,
menghitung kecepatan jalan kaki seseorang anak. Maka objek “kecepatan jalan
kaki seorang anak” kita lambangkan X, “jarak tempuh seorang anak” kita
lambangkan Y, “waktu berjalan kaki seorang anak” kita lambangkan Z, maka kita
dapat melambangkan hubungan tersebut sebagai Z=Y/X. Pernyataan Z=X/Y kiranya
jelas tidak mempunyai konotasi emosional dan hanya mengemukakan informasi
mengenai hubungan antara X, Y dan Z. Dalam hal ini pernyataan matematika
mempunyai sifat yang jelas, spesifik dan informatif dengan tidak menimbulkan
konotasi yang tidak bersifat emosional.
Matematika
sebagai sarana berfikir deduktif
Nama
ilmu deduktif diperoleh karena penyelesaian masalah-masalah yang dihadapi tidak
didasari atas pengalaman seperti halnya yang terdapat didalam ilmu-ilmu empirik,
melainkan didasarkan atas deduksi (penjabaran).
Secara
deduktif, matematika menemukan pengetahuan yang baru berdasarkan premis-premis
tertentu, walaupun pengetahuan yang ditemukan ini sebenarnya bukanlah
konsekuensi dari pernyataan-pernyataan ilmiah yang kita telah temukan
sebelumnya. Meskipun “tak pernah ada kejutan dalam logika” (Ludwig
Wittgenstein), namun pengetahuan yang didapatkan secara deduktif sangat
berguna dan memberikan kejutan yang sangat menyenangkan. Dari beberapa premis
yang kita telah ketahui, kebenarannya dapat diketemukan pengetahuan-pengetahuan
lainnya yang memperkaya perbendaharaan ilmiah kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar