Selasa, 27 Desember 2016

FILSAFAT MODEREN


Filsafat klasik bersifat kosmosentris, filsafat abad pertengahan bersifat teosentris, sedangkan filsafat modern bersifat antroposentris. Di zaman Yunani klasik, pusat perhatian filsafat adalah pertanyaan apa yang merupakan unsur pertama dari kosmos?”. Pada abad pertengahan, Allah diakui sebagai pencipta alam semesta. Sedangkan pada zaman modern, yang menjadi pusat pergulatan filosofis adalah manusia itu sendiri.

1.      Renaissance
Kata ini berasal dari bahasa Prancis dan berarti kelahiran kembali. Maksudnya, usaha untuk menghidupkan kembali kebudayaan Yunani dan  Romawi klasik. Dalam sastra lahirlah humanisme, yang juga mencari inspirasinya pada sastra Yunani dan Romawi. Renaissance ditandai oleh kelahiran kembali di berbagai ilmu, seperti ilmu sastra, kesenian, filsafat, dan ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan alam berkembang pesat berdasarkan metode eksperimental.
Nicolaus Copernicus, Johannes Kepler, dan Galileo Galilei adalah contoh ilmuwan yang membawakan wawasan baru dengan penemuan-penemuan yang penting. Copernicus berdasarkan penyelidikannya, mengemukakan bahwa pandangan geosentris yang dianggap benar selama berabad-abad sebelumnya ternyata salah. Menurut Copernicus, bukan bumi yang menjadi pusat, melainkan matahari adalah pusat jagad raya. Galileo Galilei kemudian memperkuat teori Copernicus tentang heliosentrisme.
Di bidang filsafat, peletak dasar filsafat zaman renaissance adalah Francis Bacon (1561-1623), seorang filsuf dari Inggris.

a.      FILSAFAT ABAD XVII
Tiga aliran besar filsafat yang muncul dan berkembang pada abad XVII adalah rasionalisme, empirisme, dan idealisme. Berikut dibicarakan tentang ketiga aliran tersebut.
1)        Rasionalisme
Rasionalisme adalah paham yang mengajarkan bahwa sumber pengetahuan satu-satunya yang benar adalah rasio (akal budi). Tokoh-tokoh terpenting aliran rasionalisme adalah Blaise Pascal, Baruch Spinoza, G.W.Leibnitz, Christian Wolff, dan Rene Descartes (1596-1650).
Rene Descartes dijuluki Bapak Filsafat Modern. Ucapannya yang terkenal adalah Coglto Ergo Sum (Aku berpikir maka aku ada). Ungkapan ini mempunyai makna lebih dalam dari sekedar pengertian harfiah. Dengan ungkapan itu hendak dinyatakan metode yang dianut Descartes, yakni metode kesangsian. Descartes mengatakan bahwa segalanya harus disangsikan secara radikal, dan tidak boleh diterima begitu saja. Kalau suatu kebenaran tahan terhadap kesangsian (artinya tidak disangsikan lagi), itulah kebenaran yang sesungguhnya dan harus menjadi fondamen bagi ilmu pengetahuan.
Itulah sebabnya Cogito Ergo Sum harus diartikan sebagai: saya yang sedang sangsi, ada. Bagi Descartes, berpikir berarti menyadari. Jika saya menyangsikan, maka saya menyadari sungguh-sungguh bahwa saya menyangsikan. Kebenaran itu pasti sebab saya mengerti dengan jelas dan terpilah-pilah (c/ear/y and dis- tinctly).
Menurut Descartes, dalam diri manusia terdapat tiga ide bawaan sejak lahir yang merupakan kebenaran. Ketiga ide bawaan itu adalah pikiran, Allah, dan keluasan.
Mengapa pikiran? Karena kalau saya memahami diri sebagai makluk yang berpikir, maka hakekat saya adalah pemikiran. Mengapa Allah? Kalau saya mempunyai idea "sempurna", harus ada penyebab sempurna idea itu, karena akibat tidak pernah melebihi penyebabnya. Dan mengapa pula keluasan? Karena saya mengerti materi sebagai keluasan (ekstensi).
Satu-satunya alasan untuk menerima dunia materi adalah bahwa Allah akan menipuku jika Ia memberikan idea keluasan padahal tidak ada suatu pun yang mempunyai luas. Tapi, menurut pengamatan, di luarku ada dunia materi. Jadi, Allah itu ada.
Menurut Descartes, manusia terdiri dari jiwa (pemikiran) dan tubuh (keluasan). Tubuh adalah mesin yang dijalankan jiwa. Dengan pandangan seperti ini, Descartes mengakui dualisme dalam manusia.

2)        Empirisme
Empirisme adalah aliran yang mengajarkan bahwa hanya pengalaman (lewat indra) yang merupakan sumber pengetahuan yang benar. Jadi, empirisme bertolak belakang dengan pandangan rasionalisme. Immanuel Kant kemudian mendamaikan kedua pandangan yang sangat ekstrim tersebut.
Tokoh-tokohnya yang terpenting adalah Thomas Hobbes dan John Locke, keduanya dari Inggris.

b.      FILSAFAT ABAD XVIII (AUFKLAERUNG)
Aufklaerung berarti pencerahan (enlightment). Dinamakan demikian, karena pada periode ini manusia mencari cahaya baru dalam rasionya. Keadaan periode sebelum ini sering diumpamakan dengan keadaan belum akil baligh, di mana manusia kurang menggunakan kemampuan akal budinya.
Salah satu ciri terpenting zaman Aufklaerung adalah perkembangan pesat ilmu pengetahuan. Dalam fisika kita kenal ilmuwan besar seperti Isaac Newton. Karena rasio mendapat tempat terhormat dan menjadi pusat perhatian, maka orang mulai meragukan wahyu dan otoritas agama. Mudah dimengerti, mengapa di Prancis muncul sikap antikristianisme dan antiklerikalisme.  Agama kristen sebelum periode ini, memainkan peranan sangat menentukan.
Akal budi tidak diingkari, tetapi diletakkan pada fungsinya sebagai pendukung iman dan wahyu. Penjelasan apapun yang tidak sesuai dengan iman dianggap  tidak benar.
Tempat para klerus dalam lingkungan yang memberi tempat penting  kepada agama memang sangat istimewa. Oleh sebab itu, pada masa pencerahan, orang tak mau tunduk lagi kepada otoritas agama. Mulai berkembang pemikiran-pemikiran bebas. Aufklaerung merintis jalan menuju revolusi Prancis tahun 1789.
Tokoh-tokoh terpenting filsafat masa pencerahan, antara lain George Berkeley dan David Hume (Inggris), Voltaire, Jean-Jacques Rousseau (Prancis), dan Immanuel Kant (Jerman). Filsuf paling penting untuk periode ini adalah Immanuel Kant.
Seperti dikatakan di atas, Kant berusaha mendamaikan pandangan rasionalisme dan empirisme. Menurut Kant, peran rasio dan pengalaman sama pentingnya dalam proses mengetahui. Pengalaman indra dinamakannya unsur aposteriori, sedangkan akal budi dinamakannya unsur apriori. Kant berpendapat bahwa pengetahuan selalu merupakan hasil sintese unsur akal budi dan pengalaman. Akal budi sendiri tidak dapat dipercaya begitu saja, demikian pula pengalaman indra. Kita melihat mentari sebagai sebuah benda langit bercahaya yang kecil, padahal dalam kenyataannya matahari adalah badan angkasa yang sangat besar. Oleh sebab itu, hasil pengamatan indra harus diteguhkan oleh akal budi.

c.       FILSAFAT ABAD XIX
Aliran-aliran besar yang muncul sepanjang abad XIX adalah idealisme Jerman, positivisme, dan materialisme. Berikut diuraikan secara singkat aliran-aliran tersebut serta tokoh-tokohnya.
1)        Idealisme Jerman
Idealisme adalah aliran yang berpandangan bahwa tidak ada realitas obyektif dari dirinya sendiri. Realitas seluruhnya, menurut aliran ini, bersifat subyektif.Seluruh realitas merupakan hasil aktivitas Subyek Absolut (yang dalam agama dinamakan Allah).
Jadi, menurut idealisme rasio atau roh (idea) mengendalikan realitas seluruhnya. Segala sesuatu merupakan tampakan-tampakan atau momen-momen yang berkembang sendiri. Idealisme pada dasarnya bertentangan dengan Platonisme.
Tokoh-tokohnya yang terpenting adalah tiga filsuf Jerman, yakni J.G.Fichte (1762- 1814), F.W J.Schelling (1775- 1854), dan G.W.F. Hegel (1770-1831). Filsuf paling penting di antara ketiganya adalah Hegel.

2)        Positivisme
Aliran ini berpandangan bahwa manusia tidak pernah mengetahui lebih dari fakta-fakta, atau apa yang nampak. Manusia tidak pernah mengetahui sesuatu di balik fakta-fakta.
Oleh sebab itu, menurut positivisme, tugas ilmu pengetahuan dan filsafat adalah menyelidiki fakta-fakta, bukan menyelidiki sebab-sebab terdalam realitas. Dengan demikian, positivisme menolak metafisika.
Positivisme mempunyai persamaan dan perbedaan dengan empirisme. Persamaan pada keduanya adalah bahwa keduanya mengutamakan pengalaman indra. Akan tetapi positivisme hanya menerima pengalaman obyektif, sedangkan empirisme menerima juga pengalaman batiniah/subyektif.
Tokoh-tokoh terpenting positivism, antara lain Auguste Comte (1798-1857), John Stuart Mill (1806-1873), dan Herbert Spencer (1820-1903).

3)        Materialisme
Aliran ini berpandangan bahwa seluruh realitas terdiri dari materi. Artinya, tiap benda atau peristiwa dapat dijabarkan kepada materi atau salah satu proses materiil. Materialisme merupakan aliran terpenting dan sangat berpengaruh sepanjang abad XIX. Bahkan sampai dewasa ini, Aliran ini muncul sebagai reaksi terhadap idealisme Jerman.
Tokoh-tokoh yang terpenting adalah Ludwig Feuerbach (1804-1872), Kari Marx (1818-1883), dan Friedrich Engels (1820-1895).
Pikiran-pikiran Kari Marx sering muncul dalam nama materialisme dialektis dan materialisme historis. Nama-nama itu bukan berasal dari Marx sendiri. Materialisme historis digunakan oleh Engels sesudah kematian Marx. Sedangkan materialisme dialektis digunakan tahun 1891 oleh filsuf Russia, G.Plekhanov.

Materialisme dialektis beranggapan bahwa perubahan kuantitas dapat mengakibatkan perubahan kualitas. Perapatan materi dapat menghasilkan suatu yang sama sekali baru. Dengan cara demikian, kehidupan berasal dari materi mati, dan kesadaran manusia berasal dari kehidupan organis. Materialisme historis berpandangan bahwa arah yang ditempuh sejarah ditentukan oleh perkembangan sarana-sarana produksi materiil. Menurut Marx, titik akhir sejarah adalah keadaan ekonomi tertentu, yakni komunisme, di mana milik pribadi diganti milik bersama. Baru pada kondisi seperti itulah manusia mencapai kebahagiaannya. Arah ini adalah suatu keharusan, suatu yang mutlak, tak dapat diubah dengan cara apapun. Dan manusia dapat mempercepat proses itu dengan melakukan revolusi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar