Filsafat
Barat kontemporer (abad XX) sangat heterogen. Hal ini disebabkan karena profesionalisme yang semakin besar. Banyak filsuf spesialis bidang khusus seperti matematika, fisika, psikologi, sosiologi,
atau ekonomi.
Hal penting
yang patut dicatat bahwa pada abad XX pemikiran- pemikiran lama dihidupkan
kembali. Misalnya, Neotomisme, Neokantianisme, Neopositivisme, dan sebagainya.
Di masa ini Prancis, Inggris, dan Jerman tetap merupakan negara-negara yang
paling depan dalam filsafat. Umumnya, orang membagikan filsafat pada periode
ini menjadi filsafat kontinental (Prancis dan Jerman) dan filsafat Anglosakson
(Inggris).
Aliran-aliran
terpenting yang berkembang dan berpengaruh pada abad XX adalah pragmatisme,
vitalisme, fenomenologi, eksistensialisme, filsafat analitis (filsafat bahasa),
strukturalisme, dan postmodernisme.
1.
Pragmatisme
Pragmatisme mengajarkan bahwa yang benar adalah
apa yang akibat-akibatnya bermanfat secara praktis. Jadi, patokan pragmatisme
adalah manfaat bagi kehidupan praktis. Kebenaran mistis diterima, asal
bermanfaat praktis. Pengalaman pribadi yang benar adalah pengalaman yang
bermanfaat praktis. Aliran ini sangat populer di Amerika Serikat.
Tokoh-tokohnya yang terpenting adalah William James (1842-1910) dan John Dewey
(1859-1952).
2.
Vitalisme
Vitalisme berpandangan bahwa kegiatan organisme
hidup digerakkan oleh daya atau prinsip vital yang berbeda dengan daya-daya
fisik. Aliran ini timbul sebagai reaksi terhadap perkembangan ilmu dan
teknologi serta industrialisasi, di mana segala sesuatu dapat dianalisa secara
matematis. Tokoh terpenting vitalisme adalah filsuf Prancis, Henri Bergson
(1859- 1941).
3.
Fenomenologi
Fenomenologi berasal dari kata fenomenon yang
berarti gejala atau apa yang tampak. Jadi, fenomenologi adalah aliran yang
membicarakan fenomena atau segalanya sejauh mereka tampak. Fenomenologi
dirintis oleh Edmund Husserl
(1859-1938). Seorang fenomenolog lainnya adalah Max Scheler (1874-1928).
4.
Eksistensialisme
Eksistensialisme adalah aliran filsafat yang
memandang segala gejala dengan berpangkal pada eksistensi. Eksistensi adalah
cara berada di dunia. Cara berada manusia di dunia berbeda dengan cara berada
makluk-makluk lain. Benda mati dan hewan tidak menyadari keberadaannya, tapi
manusia sadar bahwa dia berada di dunia. Manusia sadar bahwa ia bereksistensi.
Itulah sebabnya, segalanya mempunyai arti sejauh berkaitan dengan manusia.
Dengan kata lain, manusia memberi arti kepada segalanya. Manusia menentukan perbuatannya sendiri. Ia memahami diri sebagai pribadi yang bereksistensi.
Jadi, eksistensialisme berpandangan bahwa pada
manusia eksistensi mendahului esensi (hakekat), sebaliknya pada benda-benda
lain esensi mendahului eksistensi. Manusia berada lalu menentukan diri sendiri
menurut proyeksinya sendiri. Hidupnya tidak ditentukan lebih dulu. Sebaliknya,
benda-benda lain bertindak menurut esensi atau kodrat yang memang tak dapat dielakkan.
Tokoh-tokoh terpenting eksistensialisme adalah
Martin Heidegger (1883- 1976), Jean-Paul Sartre (1905-1980), Kari Jaspers
(1883-1969), dan Gabriel Marcel (1889-1973). Soren Kierkegaard (1813-1855),
Friedrich Nietzsche (1844- 1900), Nicolas Alexandrovitch Berdyaev (1874-1948), juga sering dimasukkan ke dalam kelompok filsuf-filsuf eksistensialis.
Di antara para filsuf
eksistensialis terdapat perbedaan. Sebagian mereka bahkan tidak mau
dikelompokkan sebagai filsuf eksistensialis. Akan tetapi, mereka semua mempunyai kesamaan pandangan bahwa filsafat harus bertitik
tolak pada manusia konkret, manusia yang bereksistensi. Dalam kaitan dengan ini, mereka berpendapat bahwa pada manusia eksistensi mendahului esensi (Fuad
Hassan, 1985: 7-8). Sebagian filsuf eksistensialis adalah atheis, seperti Jean-Paul Sartre, tetapi ada yang tetap mengakui Allah,
seperti Gabriel Marcel.
Jean-Paul Sartre adalah satu-satunya filsuf
kontemporer yang menempatkan kebebasan pada titik yang sangat ekstrim. Dia
berpendapat bahwa manusia itu bebas atau sama sekali tidak bebas. Tentang
kebebasan, Sartre mengatakan: "Manusia bebas. Manusia adalah
kebebasan." Sartre tidak memandang
kebebasan sebagai salah satu ciri manusia, tapi menganggap manusia sebagai
kebebasan. Ini ada kaitan dengan pandanganaya tentang eksistensi (cara berada).
Sartre membedakan dua macam cara berada, yakni etre-en-soi (berada dalam diri
sendiri) dan etre-pour-soi (berada untuk diri). Etre-en-soi adalah cara berada
yang deterministik. Itu merupakan cara berada benda-benda mati, hewan, dan
tumbuhan. Pohon, misalnya, tumbuh sebagai pohon jenis tertentu, dengan bakat
tertentu. Sampai kapan dan di manapun pohon itu akan tetap sama, tidak akan meninggalkan
kodrat. Batu, dari kodratnya telah ditentukan sebagai benda yang keras, dan
sebab itu ia akan tetap seperti itu sampai kapan pun. Jadi,
cara berada ini sudah ditentukan kodrat. Sebaliknya, Etre-pour-soi adalah cara
berada khas manusia. Artinya, manusia ada dulu baru menentukan diri sendiri.
Dirinya tidak pernah ditentukan lebih dulu. Manusia ada begitu saja, dan baru
sesudah itu manusia menentukan apa yang harus dilakukannya. Hanya manusia dapat
mengatakan "tidak", benda- benda lain selalu berada menurut esensi
atau kodrat yang telah ditentukan. Karena tidak ditentukan sebelumnya, maka
manusia bertanggung jawab terhadap keberadaannya.
Konsep kebebasan seperti ini membawa Sartre
kepada penolakan akan adanya Allah. Menurut Sartre, jika ada Allah maka manusia
tidak bebas lagi, sebab Allah sudah menentukan esensi manusia. Pisau yang
dibuat tukang, kata Sartre, sudah ada dalam konsep tukang yang membuatnya
sebelum pisau itu hadir dalam bentuk tertentu. Dalam pikirannya, tukang sudah
memikirkan bahwa pisau itu terbuat dari baja atau besi, tajam, berujung
runcing, diberi gagang tanduk rusa, digunakan untuk memotong daging atau
mencukur rambut, dan ciri-ciri lainnya. Itulah esensi pisau yang sudah ada di
kepala tukang sebelum pisau itu betul-betul hadir dalam wujudnya yang tertentu.
Kalau ada Allah, kata Sartre, maka Allah pasti
sudah mengetahui esensi manusia. Itu berarti, manusia tidak bebas lagi. Manusia
akan melakukan apa yang sudah ditentukan Allah. Tapi itu tidak mungkin, sebab pada manusia eksistensi mendahului esensi, sebab itu tidak ada Allah.
Menurut Sartre, manusia tidak mempunyai kodrat.
Ia ada begitu saja, baru sesudahnya ia membuat kodratnya sendiri karena memang tidak ada Allah yang mengkonsepkan kodrat itu.
Manusia tidak mempunyai kewajiban terhadap sesuatu yang lain, kecuali dirinya sendiri. Seandainya Allah ada, manusia
kehilangan martabat manusianya. Maka mustahil bahwa Allah dan manusia ada
berdampingan. Manusia yang hanya merupakan alat di tangan Allah, kata Sartre,
bukan manusia bebas.
Dalam bukunya Existentialism and Humanism, Sartre memberikan tanggapan kepada orang-orang yang mengatakan bahwa
eksistensialisme adalah atheisme.
Sartre mengatakan bahwa eksistensialisme sama sekali bukan atheisme yang menolak adanya Allah. Seandainya Allah ada, itu sama sekali tidak bakal mengubah apa-apa, kata Sartre.
5.
Filsafat Analitis
Aliran ini
muncul di Inggris dan Amerika Serikat sejak sekitar tahun 1950. Filsafat
analitis disebut juga filsafat bahasa. Filsafat ini merupakan reaksi terhadap idealisme,
khususnya Neohegelianisme di lnggris. Para
penganutnya menyibukkan diri dengan analisa bahasa dan konsep-konsep. Tokoh-tokohnya yang terpenting adalah Bertrand Russel, Ludwig Wittgenstein
(1889-1951), Gilbert Ryle, dan John Langshaw Austin.
6.
Strukturalisme
Strukturalisme
muncul di Prancis tahun 1960, dan dikenal pula dalam linguistik, psikiatri, dan
sosiologi. Strukturalisme pada dasarnya menegaskan bahwa masyarakat dan
kebudayaan memiliki struktur yang sama dan tetap. Maka kaum strukturalis menyibukkan
diri dengan menyelidiki struktur-struktur tersebut. Tokoh-tokoh terpenting
strukturalisme adalah Levi Strauss, Jacques Lacan, dan Michel Foucoult.
7.
Postmodernisme
Aliran ini
muncul sebagai reaksi terhadap modernisme dengan segala dampaknya. Seperti
diketahui, modernisme dimulai oleh Rene Descartes, dikokohkan oleh zaman
pencerahan (Aufklaerung), dan kemudian mengabadikan diri melalui dominasi sains
dan kapitalisme. Tokoh yang dianggap memperkenalkan istilah postmodern (isme)
adalah Francois Lyotard, lewat bukunya The Postmodern Condition: A Report on
Knowledge (1984).
Modernisme
mempunyai gambaran dunia sendiri yang ternyata melahirkan berbagai dampak
buruk, yaitu:
a.
Obyektifikasi
alam secara berlebihan dan pengurasan alam semena-mena yang mengakibatkan
krisis ekologi. Dampak ini disebabkan oleh pandangan dualistiknya yang membagi
kenyataan menjadi subyek-obyek, spiritual-material, manusia-dunia, dsb.
b.
Manusia
cenderung menjadi obyek karena pandangan modern yang obyektivistis dan
positivistis.
c.
Ilmu-ilmu
positif-empiris menjadi standar kebenaran tertinggi.
d.
Materialisme.
e.
Militerisme.
f.
Kebangkitan
kembali tribalisme (mentalitas yang mengunggulkan kelompok sendiri.
Istilah
postmodern di luar bidang filsafat muncul lebih dulu. Rudolf Pannwitz, dalam
bukunya tentang krisis kebudayaan Eropa tahun 1947 menggunakan istilah manusia
postmodern yang ciri-cirinya sehat, kuat, nasionalistis, religius, yang muncul
dari nihilisme dan dekadensi nihilisme Eropa. Ia merupakan cermin kemenangan
atas kekacauan yang menjadi ciri khas modernitas.
Dalam
perspektif filosofis istilah postmodern baru digunakan tahun 1979, dan bukan
didorong oleh postmodern di Eropa yang berlatar belakang
arsitektur, melainkan dirangsang oleh diskusi tentang problem sosiologis
masyarakat postindustri di Amerika Utara. Dalam konteks ini Jean-Francois
Lyotard membuat laporan untuk Dewan Universitas Quebec tentang
perubahan-perubahan di bidang pengetahuan pada masyarakat industri maju karena
kemajuan teknologi informasi baru. Laporan itu terbit dalam bukunya yang
disebut di atas tahun 1979. Laporan inilah yang menjadi titik tolak
diskusi-diskusi filosofis tentang postmodernisme (Jurnal Filsafat, 1990: 9-10).
Ciri-ciri
terpenting postmodernisme adalah (1) relativisme, dan (2) mengakui pluralitas.
Pada modernisme, pengetahuan merupakan suatu kesatuan yang didasarkan pada
cerita-cerita besar (grand narratives) yang menjadi ide penuntun sampai ke
penelitian-penelitian paling mendetail. Tapi
postmodernisme merelatifkan semuanya. Menurut para postmodernis, tidak ada
suatu norma yang berlaku umum. Tiap bagian mempunyai keunikan sehingga tak
dapat menerima pemaksaan ke arah penyeragaman. Dengan demikian, postmodernisme
mengakui pluralitas dan hak hidup individu atau unsur lokal (Sugiharto: 1996,
30-33).
Tokoh-tokoh
postmodernisme terpenting selain Lyotard adalah Jacques
Derrida, Richard Rorty, dan Michel Foucoult.
1xbet korean - legalbet.co.kr
BalasHapus1xbet korean. 1xbet 바카라 사이트 korean. 1xbet korean. 1xbet korean. 1xbet korean. 1xbet korean. 1xbet korean. 1xbet septcasino korean. 1xbet korean. 1xbet 1xbet korean korean. 1xbet korean.