Di era modern saat ini telah begitu banyak
ditemukan inovator baru dalam ilmu pengetahuan. Penemuan-penemuan tersebut
dapat kita rasakan hampir dalam segala bidang dan lingkungan di mana kita
berada. Misalnya, keberadaan teknologi informasi yang semakin hari semakin
canggih.Hasil penemuan baru tersebut tentunya melalui sejumlah proses yang
memakan waktu cukup relatif panjang. Hal ini (semakin pesatnya
penemuan-penemuan baru) merupakan suatu yang tidak dapat dielakkan lagi, karena
ia merupakan tuntutan dari keberadaan manusia itu sendiri, yakni keberadaan
kebutuhan dan keinginan manusia yang semakin tinggi dan beragam.
Di dalam proses penemuan sains tersebut kita
mengenal yang namanya metode ilmiah sebagai jalan untuk meraih hasil yang
sesuai “standar” keilmuan. Sains yang terus berkembang dapat dikatakan
merupakan dampak dari revolusi industri yang terjadi di Eropa. Revolusi
industri membawa perubahan besar dalam berbagai aspek . corak-corak metodologis
yang dikembangkan menyebabkan ilmu pengetahuan bersifat positivistik,
deterministik, dan evolusionistik. Sehingga segala sesuatu harus dijelaskan
dengan metode kuantitatif dan eksperimental melalui observasi. Dewasa ini, ada kecenderungan-kalau
tidak mau dikatakan sepenuhnya-yang dilakukan oleh para pemikir atau ilmuan yang berpersepsi bahwa metode
ilmiah merupakan satu-satunya metode yang diterapkan dalam mendapatkan
pengetahuan yang disebut ilmu. Bahkan, ia juga dijadikan landasan atau sebagai
asas dalam berpikir. Lebih dari itu, terjadi pensakralan terhadapnya.
Metode adalah cara yang teratur dan berpikir
baik-baik untuk mencapai maksud (dalam ilmu pengetahuan) atau cara kerja yang
bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang
ditentukan secara efektif, efisien, dan hasil yang optimal.Metode berpikir
ilmiah, layak untuk dijadikan sebagai asas bagi metode berpikir. Hal ini
disebabkan, ia dapat diterapkan pada objek-objek material yang dapat diindra,
dan kesimpulan yang dihasilkan darinya tidaklah bersifat (probability) pasti.
Dengan kata lain, metode ilmiah hanya dapat diterapkan pada ilmu yang sifatnya
adalah eksperimental atau non-humaniora. Metode ilmiah tidak dapat digunakan
kecuali pada pengkajian objek material yang dapat diindra, khususnya untuk ilmu
eksperimental.
Kriteria metode berpikir ilmiah adalah cara yang
teratur dan berpikir baik untuk mencapai maksud (dalam ilmu pengetahuan, dan
sebagainya) atau cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu
kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan. Kriteria metode berpikir ilmiah
antara lain: berdasarkan fakta, bebas dari prasangka, menggunakan prinsip
analisis, menggunakan hipotesis, menggunakan ukuran objektif dan menggunkan
teknik kuantifikasi.
Pemikiran ilmiah adalah pemikiran yang
sungguh-sungguh. Artinya, suatu cara yang berdisiplin, di mana seseorang yang
takkan membiarkan idea dan konsep yang sedang dipikirkannya berkelana tanpa
arah, namun kesemuanya itu diarahkannya pada satu tujuan tertentu. Model
berpikir ilmiah pada dasarnya, ditinjau dari sejarah berpikir manusai, terdapat
dua pola berpikir ilmiah. Yang pertama adalah berpikir secara rasional, dan
yang kedua secara empirisme.
Bahasa ilmuan adalah bahasa yang digunakan dalam
penulisan-penulisan ilmiah atau dalam penulisan dalam ilmu pengetahuan. Ciri
ragam bahasa keilmuan adalah: cendikia, lugas, formal, objektif, konsisten,
bertolak dari gagasan, ringkas dan padat.
Referensi:
Suruasumantri, Jujun S. 2007. Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Tidak ada komentar:
Posting Komentar