Jumat, 25 November 2016

Logika Ilmu dan Metode Berpikir Ilmiah

"... dan jangalah kmau berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir."[QS. Yusuf: 87]

Di era modern saat ini telah begitu banyak ditemukan inovator baru dalam ilmu pengetahuan. Penemuan-penemuan tersebut dapat kita rasakan hampir dalam segala bidang dan lingkungan di mana kita berada. Misalnya, keberadaan teknologi informasi yang semakin hari semakin canggih.Hasil penemuan baru tersebut tentunya melalui sejumlah proses yang memakan waktu cukup relatif panjang. Hal ini (semakin pesatnya penemuan-penemuan baru) merupakan suatu yang tidak dapat dielakkan lagi, karena ia merupakan tuntutan dari keberadaan manusia itu sendiri, yakni keberadaan kebutuhan dan keinginan manusia yang semakin tinggi dan beragam.
Di dalam proses penemuan sains tersebut kita mengenal yang namanya metode ilmiah sebagai jalan untuk meraih hasil yang sesuai “standar” keilmuan. Sains yang terus berkembang dapat dikatakan merupakan dampak dari revolusi industri yang terjadi di Eropa. Revolusi industri membawa perubahan besar dalam berbagai aspek . corak-corak metodologis yang dikembangkan menyebabkan ilmu pengetahuan bersifat positivistik, deterministik, dan evolusionistik. Sehingga segala sesuatu harus dijelaskan dengan metode kuantitatif dan eksperimental melalui observasi. Dewasa ini, ada kecenderungan-kalau tidak mau dikatakan sepenuhnya-yang dilakukan oleh para pemikir  atau ilmuan yang berpersepsi bahwa metode ilmiah merupakan satu-satunya metode yang diterapkan dalam mendapatkan pengetahuan yang disebut ilmu. Bahkan, ia juga dijadikan landasan atau sebagai asas dalam berpikir. Lebih dari itu, terjadi pensakralan terhadapnya.
Metode adalah cara yang teratur dan berpikir baik-baik untuk mencapai maksud (dalam ilmu pengetahuan) atau cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan secara efektif, efisien, dan hasil yang optimal.Metode berpikir ilmiah, layak untuk dijadikan sebagai asas bagi metode berpikir. Hal ini disebabkan, ia dapat diterapkan pada objek-objek material yang dapat diindra, dan kesimpulan yang dihasilkan darinya tidaklah bersifat (probability) pasti. Dengan kata lain, metode ilmiah hanya dapat diterapkan pada ilmu yang sifatnya adalah eksperimental atau non-humaniora. Metode ilmiah tidak dapat digunakan kecuali pada pengkajian objek material yang dapat diindra, khususnya untuk ilmu eksperimental.
Kriteria metode berpikir ilmiah adalah cara yang teratur dan berpikir baik untuk mencapai maksud (dalam ilmu pengetahuan, dan sebagainya) atau cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan. Kriteria metode berpikir ilmiah antara lain: berdasarkan fakta, bebas dari prasangka, menggunakan prinsip analisis, menggunakan hipotesis, menggunakan ukuran objektif dan menggunkan teknik kuantifikasi.
Pemikiran ilmiah adalah pemikiran yang sungguh-sungguh. Artinya, suatu cara yang berdisiplin, di mana seseorang yang takkan membiarkan idea dan konsep yang sedang dipikirkannya berkelana tanpa arah, namun kesemuanya itu diarahkannya pada satu tujuan tertentu. Model berpikir ilmiah pada dasarnya, ditinjau dari sejarah berpikir manusai, terdapat dua pola berpikir ilmiah. Yang pertama adalah berpikir secara rasional, dan yang kedua secara empirisme.

Bahasa ilmuan adalah bahasa yang digunakan dalam penulisan-penulisan ilmiah atau dalam penulisan dalam ilmu pengetahuan. Ciri ragam bahasa keilmuan adalah: cendikia, lugas, formal, objektif, konsisten, bertolak dari gagasan, ringkas dan padat.

Referensi: 
Suruasumantri, Jujun S. 2007. Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar