Jumat, 25 November 2016

Dampak Perubahan Kurikulum Terhadap Mutu Pendidikan


"Tidak masalah berapa banyak impian yang Anda miliki. Masalah muncul jika Anda berusaha mengejar semuanya pada saat bersamaan, karena Anda akan kehilangan fokus dan akhirnya tidak mendapatkan apa-apa." [P. Winarto]

            Kurikulum dapat memberikan sebuah hasil dari pendidikan atau pengajaran yang diharapkan karena ia menunjukkan apa yang harus dipelajari dan kegiatan apa yang harus dialami oleh peserta didik. Jika kurikulum di rubah, pastinya akan terdapat sebuah permasalahan yang akan terbeban.
Adapun, terjadinya pengembangan kurikulum adalah istilah yang komprehensif, didalamnya mencakup: perencanaan, penerapan dan evaluasi. Perencanaan kurikulum adalah langkah awal membangun kurikulum ketika pekerja kurikulum membuat keputusan dan mengambil tindakan untuk menghasilkan perencanaan yang akan digunakan oleh guru dan peserta didik. Penerapan Kurikulum atau biasa disebut juga implementasi kurikulum berusaha mentransfer perencanaan kurikulum ke dalam tindakan operasional. Evaluasi kurikulum merupakan tahap akhir dari pengembangan kurikulum untuk menentukan seberapa besar hasil-hasil pembelajaran, tingkat ketercapaian program-program yang telah direncanakan, dan hasil-hasil kurikulum itu sendiri.
Dalam pengembangan kurikulum, tidak hanya melibatkan orang yang terkait langsung dengan dunia pendidikan saja, namun di dalamnya melibatkan banyak orang, seperti: politikus, pengusaha, orang tua peserta didik, serta unsur-unsur masyarakat lainnya yang merasa berkepentingan dengan pendidikan.
Oleh karena itu, pengembangan kurikulum yang terlalu sering akan membawa dampak juga. Kurikulum pendidikan memang akan terus berkembang sejalan dengan perkembangan zaman. Konsekuensi logisnya adalah bahwa setiap negara tidak bisa hanya terpaku pada suatu kurikulum lama saja, karena boleh jadi kurikulum yang dipakai sudah kuno dan usang.
Namun hal itu bukan merupakan alasan untuk terus “bongkar-pasang” kurikulum. Apalagi dalam waktu yang singkat, hanya berselang beberapa tahun kurikulum sudah diganti lagi. Bukan tidak baik mengganti kurikulum yang ada. Image-nya akan baik jika kurikulum tersebut matang dan dapat mewakili semua keadaan dan kebutuhan pendidikan di wilayah tersebut. Jangan sampai justru sebaliknya. Penggantian kurikulum hanya akan membuat bingung peserta didik tentang hal apa yang mereka akan pelajari.
Pengembangan kurikulum secara terus-menerus juga berdampak pada pola pikir para peserta didik. Misalnya, orang-orang yang angkatan belajarnya menggunakan kurikulum lama cenderung lebih monoton dalam cara belajarnya. Mereka belajar dari pola-pola yang dianjurkan oleh para guru dan sebatas mendapatkan pengetahuan dari gurunya saja. Lain halnya dengan orang-orang cetakan KBK yang cenderung ingin mendapatkan info lebih daripada info yang mereka dapatkan dari gurunya. Hal ini hanya dampak kecil yang boleh dinilai agak baik apabila kurikulumnya dilaksanakan secara menyeluruh sehingga hanya dipengaruhi oleh satu kurikulum saja. Tapi dampak besar terjadi pada pola pikir orang-orang yang berada pada zaman peralihan, yaitu orang-orang yang merasakan semua kurikulum. Misalnya SD dengan kurikulum 1994, SMP dengan kurikulum 2004 dan KBK, KBK belum selesai sudah diganti KTSP. Tidak dapat dibayangkan bagaimana pola pikir yang berbekas pada mereka.
Selain itu tidak terjadi sinkronisasi antara kurikulum lama dengan yang baru. Tidak sedikit pun orang-orang yang sekolah dengan kurikulum lama tidak dapat bekerja karena standar pendidikan tersebut sudah tidak berlaku lagi. Sehingga terpaksa mereka harus sekolah kembali untuk dapat menyesuaikannya. Dan entah apalagi yang akan terjadi dimasa mendatang sebagai korban dari pergantian kurikulum yang tidak terstruktur.
Semua hal tersebut menunjukkan tidak terstrukturnya pembentukan kurikulum yang ada. KBK yang baru setengah jalan diganti dengan KTSP. Padahal apabila satu kurikulum yang ada diimplementasikan secara menyeluruh akan membuahkan hasil yang baik pula. Sebenarnya yang dibutuhkan bukan penggantian sistem kurikulum, melainkan penyempurnaan (revisi) kurikulum. Cukup 1 kurikulum saja, dengan catatan dapat mewakili semua hal dan kebutuhan pendidikan di wilayah tersebut dan akan terus disempurnakan sejalan dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan tujuan-tujuan yang belum tercapai di masa lalu.
Tanpa disadari perubahan ini membawa dampak negatif terhadap siswa karena perubahan ini tidak disepakati terlebih dahulu dan cenderung dipaksakan.
Jika perubahan kurikulum ini tetap dilaksanakan, mungkin banyak siswa atau para wali murid yang akan terbebankan. Hal ini disebabkan karena memicu banyak persyaratan diantaranya harus membeli buku baru untuk memenuhi persyaratan tersebut. Adapun penambahan jadwal dan jam pelajaran yang semakin panjang, dan itu harus dipersiapkan betul-betul.

Sehingga dapat diketahui kurikulum sangat besar pengaruhnya dalam proses belajar siswa. Jika kurikulum tetap dilaksanakan tapi seorang pendidik tidak dapat bekerja dengan pasti, itu tidak akan membuahkan hasil. Sebelum perubahan kurikulum dilaksanakan sebaiknya seorang guru dapat diketahui kemampuannya akan perubahan kurikulum baru. Jika memang mampu, maka tidak perlu diperlukan lagi untuk melaksanakan perubahan itu. Terdapat fungsi dan peran pengembangan kurikulum yang dapat kita ketahui.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar