"Tidak masalah berapa banyak impian yang Anda miliki. Masalah muncul jika Anda berusaha mengejar semuanya pada saat bersamaan, karena Anda akan kehilangan fokus dan akhirnya tidak mendapatkan apa-apa." [P. Winarto]
Kurikulum
dapat memberikan sebuah hasil dari pendidikan atau pengajaran yang diharapkan
karena ia menunjukkan apa yang harus dipelajari dan kegiatan apa yang harus
dialami oleh peserta didik. Jika kurikulum di rubah, pastinya akan terdapat
sebuah permasalahan yang akan terbeban.
Adapun,
terjadinya pengembangan kurikulum adalah istilah yang komprehensif, didalamnya
mencakup: perencanaan, penerapan dan evaluasi. Perencanaan kurikulum adalah
langkah awal membangun kurikulum ketika pekerja kurikulum membuat keputusan dan
mengambil tindakan untuk menghasilkan perencanaan yang akan digunakan oleh guru
dan peserta didik. Penerapan Kurikulum atau biasa disebut juga implementasi
kurikulum berusaha mentransfer perencanaan kurikulum ke dalam tindakan
operasional. Evaluasi kurikulum merupakan tahap akhir dari pengembangan
kurikulum untuk menentukan seberapa besar hasil-hasil pembelajaran, tingkat
ketercapaian program-program yang telah direncanakan, dan hasil-hasil kurikulum
itu sendiri.
Dalam
pengembangan kurikulum, tidak hanya melibatkan orang yang terkait langsung
dengan dunia pendidikan saja, namun di dalamnya melibatkan banyak orang,
seperti: politikus, pengusaha, orang tua peserta didik, serta unsur-unsur
masyarakat lainnya yang merasa berkepentingan dengan pendidikan.
Oleh
karena itu, pengembangan kurikulum yang terlalu sering akan membawa dampak
juga. Kurikulum pendidikan memang akan terus berkembang sejalan dengan
perkembangan zaman. Konsekuensi logisnya adalah bahwa setiap negara tidak bisa
hanya terpaku pada suatu kurikulum lama saja, karena boleh jadi kurikulum yang
dipakai sudah kuno dan usang.
Namun
hal itu bukan merupakan alasan untuk terus “bongkar-pasang” kurikulum. Apalagi
dalam waktu yang singkat, hanya berselang beberapa tahun kurikulum sudah
diganti lagi. Bukan tidak baik mengganti kurikulum yang ada. Image-nya akan baik
jika kurikulum tersebut matang dan dapat mewakili semua keadaan dan kebutuhan
pendidikan di wilayah tersebut. Jangan sampai justru sebaliknya. Penggantian
kurikulum hanya akan membuat bingung peserta didik tentang hal apa yang mereka
akan pelajari.
Pengembangan
kurikulum secara terus-menerus juga berdampak pada pola pikir para peserta
didik. Misalnya, orang-orang yang angkatan belajarnya menggunakan kurikulum
lama cenderung lebih monoton dalam cara belajarnya. Mereka belajar dari
pola-pola yang dianjurkan oleh para guru dan sebatas mendapatkan pengetahuan
dari gurunya saja. Lain halnya dengan orang-orang cetakan KBK yang cenderung
ingin mendapatkan info lebih daripada info yang mereka dapatkan dari gurunya.
Hal ini hanya dampak kecil yang boleh dinilai agak baik apabila kurikulumnya
dilaksanakan secara menyeluruh sehingga hanya dipengaruhi oleh satu kurikulum
saja. Tapi dampak besar terjadi pada pola pikir orang-orang yang berada pada
zaman peralihan, yaitu orang-orang yang merasakan semua kurikulum. Misalnya SD
dengan kurikulum 1994, SMP dengan kurikulum 2004 dan KBK, KBK belum selesai
sudah diganti KTSP. Tidak dapat dibayangkan bagaimana pola pikir yang berbekas
pada mereka.
Selain
itu tidak terjadi sinkronisasi antara kurikulum lama dengan yang baru. Tidak
sedikit pun orang-orang yang sekolah dengan kurikulum lama tidak dapat bekerja
karena standar pendidikan tersebut sudah tidak berlaku lagi. Sehingga terpaksa
mereka harus sekolah kembali untuk dapat menyesuaikannya. Dan entah apalagi
yang akan terjadi dimasa mendatang sebagai korban dari pergantian kurikulum
yang tidak terstruktur.
Semua
hal tersebut menunjukkan tidak terstrukturnya pembentukan kurikulum yang ada.
KBK yang baru setengah jalan diganti dengan KTSP. Padahal apabila satu
kurikulum yang ada diimplementasikan secara menyeluruh akan membuahkan hasil
yang baik pula. Sebenarnya yang dibutuhkan bukan penggantian sistem kurikulum,
melainkan penyempurnaan (revisi) kurikulum. Cukup 1 kurikulum saja, dengan
catatan dapat mewakili semua hal dan kebutuhan pendidikan di wilayah tersebut
dan akan terus disempurnakan sejalan dengan perkembangan zaman tanpa
meninggalkan tujuan-tujuan yang belum tercapai di masa lalu.
Tanpa
disadari perubahan ini membawa dampak negatif terhadap siswa karena perubahan
ini tidak disepakati terlebih dahulu dan cenderung dipaksakan.
Jika
perubahan kurikulum ini tetap dilaksanakan, mungkin banyak siswa atau para wali
murid yang akan terbebankan. Hal ini disebabkan karena memicu banyak
persyaratan diantaranya harus membeli buku baru untuk memenuhi persyaratan
tersebut. Adapun penambahan jadwal dan jam pelajaran yang semakin panjang, dan
itu harus dipersiapkan betul-betul.
Sehingga
dapat diketahui kurikulum sangat besar pengaruhnya dalam proses belajar siswa.
Jika kurikulum tetap dilaksanakan tapi seorang pendidik tidak dapat bekerja
dengan pasti, itu tidak akan membuahkan hasil. Sebelum perubahan kurikulum
dilaksanakan sebaiknya seorang guru dapat diketahui kemampuannya akan perubahan
kurikulum baru. Jika memang mampu, maka tidak perlu diperlukan lagi untuk
melaksanakan perubahan itu. Terdapat fungsi dan peran pengembangan kurikulum
yang dapat kita ketahui.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar