Kamis, 10 November 2016

Fungsi-fungsi Bahasa

"Dan Dia (Allah) memberimu pendengaran, penglihatan, dan hati agar kamu bersyukur"
[QS.  An-Nahl: 78]

     Berkat berbagai studi, berbagai masalah bahasa juga semakin tersingkap. Alangkah bermanfaatnya jika seorang pemikir juga tahu dan menyadari studi tata bahasa generatif dari Noam Chomsky, sosiolinguistika Basil Bernstein, linguistika structural de Saussure, konsepsi bahasa Gadamer, studi tentang semiologi dari Roland Barthes.
   Hal ini terlebih dirasakan sangat mendesak di dalam studi tentang logika scientifika, yang memandang bahasa pertama-tama sebagai suatu alat.
    Dalam memandang bahasa sebagai alat, sering terjadi orang tidak menyadari juga keragaman pemakaian bahasa. Di dalam karyanya yang berjudul Treatise Concerning the Principles of Human Knowledge, filsuf George Berkeley menunjuk bahwa tujuan utama dan satu-satunya dari bahasa bukan untuk mengomunikasikan ide-ide. Masih banyak tujuan lainnya lagi. Begitu pula hasil penelitian filsuf Ludwig von Wittgenstein II dalam karyanya Philosophical Investigations. Ia berbicara tentang berbagai permainan bahasa (Sprachspiele), seperti, memberi perintah, memberikan sesuatu, melaporkan suatu peristiwa, menyuguhkan hasil eksperimen ke dalam tabel dan diagram, melawak, memaki, menghormati berdoa, mengucapkan terima kasih, dan sebagainya.
      Berbagai macam pemakain bahasa tersebut demi kepentingan studi logika biasa dikelompokkan dalam tiga kategori fungsi. Pertama adalah pemakaian bahasa untuk menyampaikan informasi, yakni merumuskan dan meng-ia-kan atau menolak proposisi. Inilah fungsi informative bahasa: mengiakan atau menolak proposisi atau pula menyuguhkan argumen/argumentasi. Ilmu adalah contoh yang jelas dari realitas fungsi informatif bahasa.
     Fungsi kedua bahasa adalah fungsi ekspresif, misalnya pemakaian bahasa dalam puisi, dalm ungkapan rasa sedih, rasa sayang, ungkapan semangat. Bahasa di sini dipakai sebagai alat pengungkapan rasa perasaan dan sikap.
   Fungsi direktif adalah fungsi ketiga pemakaian bahasa, yakni pemakaian bahasa untuk menyebebkan atau menghalangi suatu perilaku. Perintah atau permintaan merupakan contoh jelas fungsi direktif bahasa.
      Hal yang perlu dicatat adalah bahwa pengertian benar atau salah tidak dapat diterapkan pada fungsi ekspesif dan fungsi direktif. Namun demikian terdapat usaha untuk mengembangkan logic of imperatives (Cf.  Misalnya: The Logic of Commands, oleh Nicholas Rescher, 1960).
          Ketiga fungsi bahasa tersebut tidak jarang dipakai secara bersama sehingga muncullah arti yang benar-benar berseluk-beluk. Kenyataan ini, yang biasa di dalam setiap bentuk  komunikasi yang efektif mengudang kewaspadaan setiap pemikir.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar