[QS. An-Nahl: 78]
Berkat
berbagai studi, berbagai masalah bahasa juga semakin tersingkap. Alangkah
bermanfaatnya jika seorang pemikir juga tahu dan menyadari studi tata bahasa
generatif dari Noam Chomsky, sosiolinguistika Basil Bernstein, linguistika
structural de Saussure, konsepsi bahasa Gadamer, studi tentang semiologi dari
Roland Barthes.
Hal ini
terlebih dirasakan sangat mendesak di dalam studi tentang logika scientifika,
yang memandang bahasa pertama-tama sebagai suatu alat.
Dalam
memandang bahasa sebagai alat, sering terjadi orang tidak menyadari juga
keragaman pemakaian bahasa. Di dalam karyanya yang berjudul Treatise Concerning
the Principles of Human Knowledge, filsuf George Berkeley menunjuk bahwa tujuan
utama dan satu-satunya dari bahasa bukan untuk mengomunikasikan ide-ide. Masih
banyak tujuan lainnya lagi. Begitu pula hasil penelitian filsuf Ludwig von
Wittgenstein II dalam karyanya Philosophical Investigations. Ia berbicara
tentang berbagai permainan bahasa (Sprachspiele), seperti, memberi perintah,
memberikan sesuatu, melaporkan suatu peristiwa, menyuguhkan hasil eksperimen ke
dalam tabel dan diagram, melawak, memaki, menghormati berdoa, mengucapkan
terima kasih, dan sebagainya.
Berbagai
macam pemakain bahasa tersebut demi kepentingan studi logika biasa
dikelompokkan dalam tiga kategori fungsi. Pertama adalah pemakaian bahasa untuk
menyampaikan informasi, yakni merumuskan dan meng-ia-kan atau menolak
proposisi. Inilah fungsi informative bahasa: mengiakan atau menolak proposisi
atau pula menyuguhkan argumen/argumentasi. Ilmu adalah contoh yang jelas dari
realitas fungsi informatif bahasa.
Fungsi
kedua bahasa adalah fungsi ekspresif, misalnya pemakaian bahasa dalam puisi,
dalm ungkapan rasa sedih, rasa sayang, ungkapan semangat. Bahasa di sini
dipakai sebagai alat pengungkapan rasa perasaan dan sikap.
Fungsi
direktif adalah fungsi ketiga pemakaian bahasa, yakni pemakaian bahasa untuk
menyebebkan atau menghalangi suatu perilaku. Perintah atau permintaan merupakan
contoh jelas fungsi direktif bahasa.
Hal
yang perlu dicatat adalah bahwa pengertian benar atau salah tidak dapat
diterapkan pada fungsi ekspesif dan fungsi direktif. Namun demikian terdapat usaha
untuk mengembangkan logic of imperatives (Cf.
Misalnya: The Logic of Commands, oleh Nicholas Rescher, 1960).
Ketiga
fungsi bahasa tersebut tidak jarang dipakai secara bersama sehingga muncullah
arti yang benar-benar berseluk-beluk. Kenyataan ini, yang biasa di dalam setiap
bentuk komunikasi yang efektif mengudang
kewaspadaan setiap pemikir.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar