"Jangan salahkan Allah bila do'a tidak dikabulkan, dan jangan pula menggerutu atau jemu."
[syekh abdul Qadir al- Jilani]
Fakta
tidak berbicara untuk diri mereka sendiri. Dalam dunia yang ditelaah ilmu,
sekelompok molekul atau sel tidak meloncat-loncat, melambaikan tangan,
bersuit-suit, dan mengatakan, “Hai, lihat saya! Di sini! Saya adalah batu, atau
pohon, atau kuda.” Apanya suatu benda tergantung kepada merek yang diberikan
manusia kepada benda tersebut. Bagaimana suatu benda dapat dijelaskan
tergantung kepada hubungan konseptual yang dipakai menyorot benda tersebut.
Kenyataan ini membawa kita kepada salah satu segi yang paling sulit dari
metodelogi keilmuan yakni peranan dari hipotesis.
Hipotesis
adalah pernyataan sementara tentang hubungan antar variabel. Hubungan hipotesis
ini diajukan dalam bentuk dugaan kerja, atau teori, yang merupakan dasar dalam
menjelaskan kemungkinan hubungan tersebut. Hipotesis diajukan secara khas
dengan dasar coba-coba (trial-and-error). Hipotesis hanya merupakan dugaan yang
beralasan, atau mungkin merupakan perluasan dari hipotesis terdahulu yang telah
teruji kebenarannya, yang kemudian diterapkan pada data yang baru. Dalam kedua
hal di atas, hipotesis berfungsi untuk mengikat data sedemikian rupa, sehingga
hubungan yang diduga dapat kita gambarkan, dan penjelasan yang mungkin dapat
kita ajukan. Sebuah hipotesis biasanya diajukan dalam bentuk pertanyaan “jika
X, maka Y”. jika kulit manusia kekurangan pigmen, maka kulit itu mudah terbakar
saat disinari matahari. Hipotesis ini memberikan penjelasan sementara paling
tidak tentang beberapa hubungan antara pigmentasi dengan sinar matahari.
Hipotesis ini juga mengungkapkan kepada kita syarat mana yang harus dipenuhi
dan pengamatan apa yang diperlukan jika kita ingin menguji kebenaran dari
dugaan kerja tersebut.
Oleh
karena itu, maka sebelum teruji kebenarannya secara empiris semua penjelasan
rasional yang diajukan statusnya hanyalah bersifat sementara. Sekiranya kita
menghadapi suatu masalah tersebut, kita dapat mengajukan hipotesis yang
merupakan jawaban sementara dari permasalahan tersebut. Secara teoretis maka
sebenarnya kita dapat mengajukan hipotesis sebanyak-banyaknya sesuai dengan
hakikat rasionalisme yang bersifat pluralistik. Hanya di sini dari sekian
hipotesis yang diajukan itu hanya satu yang diterima berdasarkan kriteria
kebenaran keorespondensi yakni hipotesis yang didukung oleh fakta –fakta
empiris.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar