Jumat, 11 November 2016

HIPOTESIS

"Jangan salahkan Allah bila do'a tidak dikabulkan, dan jangan pula menggerutu atau jemu."
[syekh abdul Qadir al- Jilani]

     Fakta tidak berbicara untuk diri mereka sendiri. Dalam dunia yang ditelaah ilmu, sekelompok molekul atau sel tidak meloncat-loncat, melambaikan tangan, bersuit-suit, dan mengatakan, “Hai, lihat saya! Di sini! Saya adalah batu, atau pohon, atau kuda.” Apanya suatu benda tergantung kepada merek yang diberikan manusia kepada benda tersebut. Bagaimana suatu benda dapat dijelaskan tergantung kepada hubungan konseptual yang dipakai menyorot benda tersebut. Kenyataan ini membawa kita kepada salah satu segi yang paling sulit dari metodelogi keilmuan yakni peranan dari hipotesis.
         Hipotesis adalah pernyataan sementara tentang hubungan antar variabel. Hubungan hipotesis ini diajukan dalam bentuk dugaan kerja, atau teori, yang merupakan dasar dalam menjelaskan kemungkinan hubungan tersebut. Hipotesis diajukan secara khas dengan dasar coba-coba (trial-and-error). Hipotesis hanya merupakan dugaan yang beralasan, atau mungkin merupakan perluasan dari hipotesis terdahulu yang telah teruji kebenarannya, yang kemudian diterapkan pada data yang baru. Dalam kedua hal di atas, hipotesis berfungsi untuk mengikat data sedemikian rupa, sehingga hubungan yang diduga dapat kita gambarkan, dan penjelasan yang mungkin dapat kita ajukan. Sebuah hipotesis biasanya diajukan dalam bentuk pertanyaan “jika X, maka Y”. jika kulit manusia kekurangan pigmen, maka kulit itu mudah terbakar saat disinari matahari. Hipotesis ini memberikan penjelasan sementara paling tidak tentang beberapa hubungan antara pigmentasi dengan sinar matahari. Hipotesis ini juga mengungkapkan kepada kita syarat mana yang harus dipenuhi dan pengamatan apa yang diperlukan jika kita ingin menguji kebenaran dari dugaan kerja tersebut.
         Oleh karena itu, maka sebelum teruji kebenarannya secara empiris semua penjelasan rasional yang diajukan statusnya hanyalah bersifat sementara. Sekiranya kita menghadapi suatu masalah tersebut, kita dapat mengajukan hipotesis yang merupakan jawaban sementara dari permasalahan tersebut. Secara teoretis maka sebenarnya kita dapat mengajukan hipotesis sebanyak-banyaknya sesuai dengan hakikat rasionalisme yang bersifat pluralistik. Hanya di sini dari sekian hipotesis yang diajukan itu hanya satu yang diterima berdasarkan kriteria kebenaran keorespondensi yakni hipotesis yang didukung oleh fakta –fakta empiris.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar