Rabu, 09 November 2016

FILSAFAT TIONGKOK

     Filsafat Tiongkok dapat dikatakan hidup di dalam kebudayaan Tiongkok. Hal ini disebabkan, karena pemikiran filsafat selalu diberikan dalam setiap jenjang pendidikan dari sejak pendidikan dasar (anak) sampai pendidikan tinggi.
       Terdapat empat buah buku yang dianggap sebagai kitab suci rakyat Tiongkok, yaitu:
a. Analecta Confucius;
b. Karang-karangan Mencius;
c. Ilmu Tinggi (The Great Learning);
d. Ajaran Tentang Jalan Tengah (Doctrine of the Mean).
       Menurut Fung Yu Lan, seorang ahli sejarah Tiongkok , di Tiongkok terdapat tiga agama, yaitu Confucianisme, Taoisme, dan Buddahisme. Dikemukakan lagi bahwa dalam kehidupan rakyat Tiongkok kegiatan keagamaan tidaklah dianggap penting, yang penting adalah etika terutama dari Confiucius.
       Menurut rakyat Tiongkok, fungsi filsafat dalam kehidupan manusia adalah untuk mempertinggi tingkat rohani. Artinya, rohani manusia diharapkan dapat menjulang tinggi untuk meraih nilai-nilai yang lebih tinggi daripada nilai-nilai moral. Menurut Mencius, “orang bijaksana adalah sebagai puncak hubungan antarmanusia.
       Dari sudut moral, orang yang arif bijaksana adalah manusia yang paling sempurna di dalam suatu masyarakat. Menurut kebiasaan masyarakat Tiongkok kewajiban (bukan hak) memungkinkan manusia untuk memperoleh watak yang digambarkan sebagai orang arif bijaksana. Mempelajari filsafat agar orang dapat berkembang menjadi “manusia” dan supaya tidak menjadi “orang macam tertentu”. Artinya, apabila orang mempelajari “bukan filsafat”, memungkinkan orang untuk berkembang menjadi orang untuk berkembang manjadi orang macam tertentu (some special kind of man).
1. Latar Balakang Filsafat Tiongkok
       Banyak aspek yang melatarbelakangi pemikiran filsafat Tiongkok, seperti aspek-aspek geografis, ekonomi, sikap terhadap alam, sistem kekerabatan dan lainnya. Tiongkok adalah suatu negeri daratan (continental) yang luas sekali, tidak pernah melihat lautan. Berbeda dengan Yunani yang merupakan negeri maritime, rakyatnya mengandalkan pertanian. Sebagai negeri agraris yang selalu mengandalkan potensi atau hasil tanahnya. Hal ini dibuktikan bahwa keunggulan kerajaan Tiongkok kuno ditentukan oleh keahlian bertani dan berperang, seperti kerajaan Chin pada abad ke-4 SM, yang untuk pertama kalinya dapat mempersatukan daratan Tiongkok.
         Dalam tradisi Tiongkok, jenis pekerjaan yang mendapat tempat terhormat adalah menuntut ilmu (belajar) dan mengolah tanah (bertani). Jenis pekerjaan ini akan memengaruhi sikap mereka terhadap alam dan pandangan hidupnya. Para petani mempunyai sifat khusus “kesederhanaan”, dan mereka selalu menerima dan mematuhi perintah. Mereka pun tidak pernah mementingkan dirinya sendiri. Sifat-sifat yang demikian inilah yang menjelma dalam sikap hidupnya.
      Akar atau sumber alam pikiran rakyat Tiongkok adalah Taoisme dan Confucianisme. Taoisme adalah pandangan hidup yang menitik beratkan pada hal-hal yang sifatnya naturalistic yang berada dalam diri manusia. Sementara itu, Confucianisme adalah suatu pandangan hidup yang menitikberatkan pada organisasi social dan menekankan kepada tanggung jawab manusia terhadap masyarakat. Sebagai contoh:
-          Fajar telah menyingsing;
-          Jangan seklai-kali berlebih-lebihan;
-          Bilamana matahari telah mencapai puncaknya;
-          Maka turunlah ia;
-          Dan bilamana bulan sudah purnama;
-          Maka mengecillah ia;
             Dalam bidang kesenian, rakyat Tiongkok menganggap bahwa kesenian merupakan alat untuk pendidikan moral. Terbukti adanya lukisan-lukisan Tiongkok yang tergolong kelas utama, selalu menggambarkan pemandangan-pemandangan dan bunga-bunga, pohon-pepohonan, atau orang yang sedang duduk di pinggir sungai atau gunung.
             Keadaan rakyat Tiongkok yang agraris ini berpengaruh pada metode filsafatnya. Terdapat dua macam konsep, yaitu metedo yang dicapai lewat intuisi dan lewat hipotesis. Bahasa yang digunakan dalam pemikiran filsafat adalah sugestif, artinya isi pemikirannya tidak tegas, hanya mengandung saran-saran.
     2. Sentuhan dengan Filsafat Barat
         Orang Barat menamakan Tiongkok sebagai negeri Timur jauh. Sebaliknya orang Tiongkok menganggap kebudayaan lain adalah salah atau tidak setinggi dengan kebudayaan yang dimilikinya. Semua orang asing disebutnya orang Barbar sehingga menimbulkan rasa nasionalismenya sangat tinggi.
            Pada akhir Dinasti Ming (abad ke-14), banyak pelajar Tiongkok yang mengagumi matematika dan astronomi, yang dibawa dari Barat oleh kaum misionaris Kristen sehingga banyak pelajar yang masuk menjadi misionaris.
           Pada abad ke-19, karena keunggulan militer, industri, dan perdagangan barat, kebetulan bersamaan dengan krisis politik dalam negeri, timbullah sengketa antara Tiongkok dengan orang misionaris. Akibatnya, muncul gerakan untuk kembali kepada ajaran Confusius. Pelopornya adalah K’ang Yu Mei (1858 - 1927). Setelah terjadi pergolokan, ia melarikan diri ke luar negeri.
            Pada abad ke 20 perkembangan kaum Kristen semakin pesat karena didorong oleh masuknya ilmu pengetahuan modern. Mempengaruhi jatuhnya Dinasti Ming, dan diganti dengan sistem pemerintah republik (tahun 1912).

      Yen Fu (1853 - 1920)
           Yen Fu (1853 - 1920) oleh penguasa Tiongkok dikirim untuk belajar ilmu perkapalan ke Inggris. Abanyak ilmu yang didapatkannya, termasuk literatur-literatur tentang humaniora, kemudian banyak yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Tiongkok (Cina).
         Pada tahun 1919 John Dewey dan Bertrand Russell diundang ke Tiongkok untuk memberikan ceramahnya di Universitas Peking (Beijing), sekaligus memberikan pandangan intelektualnya. Hal ini diharapkan dapat disumbangkan (sebagai sumbangan barat) terhadap pemikiran filsafat Tiongkok. Sumbangan tersebut berupa metode analisis yang berdasarkan logika (metode positif). Metode positif tersebut akan dapat memberikan cara berpikir yang baru tehadap pemikiran filsafat.
        Sampai sekarang, sentuhan rakyat Barat yang telah membekas adalah adanya studi filsafat Tiongkok.
     3. Aliran-lairan Pemikiran Filsafat di Tiongkok
            Di Tiongkok terdapat dua aliran yang mendominasi pemikiran rakyatnya, yaitu Confusianisme dan Taoisme.
      Confusianisme
          Confusianisme dipelopori oleh K’ung Fu Tzu (551 – 479 SM), lahir di Shantung. Riwayat hidupnya dapat diketahui lewat penuturan sebuah buku Lun-yu (pembicaraan). Ia keturunan bangsawan misin. Umur 22 tahun mendirikan sekolah. Umur 51 tahun menjadi gubernur di Tsyung, kemudian diangkat menjadi menteri kehakiman. Umur 73 tahun mendirikan mazhab sampai ia meninggal dunia. Dia dianggap sebagai guru kesusilaan bangsa Cina.
             Pemikirannya, suatu hal yang dipentingkan oleh K’ung Fu Tze adalah ritual dan harus menguasai aspek keagamaan dan social. Ia mengatakan, bahwa hendaknya raja tetap raja, hamba tetap hamba, ayah tetap ayah, anak tetap anak. Apabila sikap setiap orang sesuai dengan statusnya, maka akan lahir kesadaran akan “hak, dan kewajiban”. Sistem kekerabatan harus didasarkan pada syian, yaitu suatu perasaan keterikatan terhadap orang-orang yang menurunkannya. Aspek inilah yang menjadikan budaya Tiongkok tetap terwariskan.
      Taoisme
        Pendiri Taoisme adalah Lao Tze lahir tahun 604 SM. Riwayat hidupnya hanya sedikit saja diketahui, tetapi ajarannya berpengaruh besar dalam masyarakat Tiongkok. Dalam arti yang luas, Tao berarti jalan yang dilalui kejadian-kejadian alam dengan daya cita yang timbul dengan sendirinya ditambah selingan-selingan yang teratur. Misalnya, siang dan malam.
 Semua orang yang mengikuti Tao harus melepaskan semua usaha. Tujuan tinggi adalah meloloskan diri dari khyalan keinginan dengan renungan secara gaib.
  Pemikirannya, orang hendaknya memberikan kasih sayangnya tidak hanya terbatas pada para anggota keluarganya saja, tetapi harus kepada seluruh anggota keluarga yang lain. Peperangan dan upacara ritual dengan pengeluaran biaya tinggi yang akan merugikan rakyat merupakan suatu yang bertentangan dengan dasar kecintaan manusia sehingga harus dicela. Kalau kita sayang kepada orang lain, orang lain juga akan sayang kepada kita, dan kita tidak perlu takut akan kejahatan orang lain.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar