Filsafat
Tiongkok dapat dikatakan hidup di dalam kebudayaan Tiongkok. Hal ini
disebabkan, karena pemikiran filsafat selalu diberikan dalam setiap jenjang
pendidikan dari sejak pendidikan dasar (anak) sampai pendidikan tinggi.
Terdapat
empat buah buku yang dianggap sebagai kitab suci rakyat Tiongkok, yaitu:
a. Analecta Confucius;
b. Karang-karangan Mencius;
c. Ilmu Tinggi (The Great Learning);
d. Ajaran Tentang Jalan Tengah (Doctrine of the Mean).
Menurut
Fung Yu Lan, seorang ahli sejarah Tiongkok , di Tiongkok terdapat tiga agama,
yaitu Confucianisme, Taoisme, dan Buddahisme. Dikemukakan lagi bahwa dalam
kehidupan rakyat Tiongkok kegiatan keagamaan tidaklah dianggap penting, yang
penting adalah etika terutama dari Confiucius.
Menurut
rakyat Tiongkok, fungsi filsafat dalam kehidupan manusia adalah untuk
mempertinggi tingkat rohani. Artinya, rohani manusia diharapkan dapat menjulang
tinggi untuk meraih nilai-nilai yang lebih tinggi daripada nilai-nilai moral.
Menurut Mencius, “orang bijaksana adalah sebagai puncak hubungan antarmanusia.
Dari
sudut moral, orang yang arif bijaksana adalah manusia yang paling sempurna di
dalam suatu masyarakat. Menurut kebiasaan masyarakat Tiongkok kewajiban (bukan
hak) memungkinkan manusia untuk memperoleh watak yang digambarkan sebagai orang
arif bijaksana. Mempelajari filsafat agar orang dapat berkembang menjadi
“manusia” dan supaya tidak menjadi “orang macam tertentu”. Artinya, apabila
orang mempelajari “bukan filsafat”, memungkinkan orang untuk berkembang menjadi
orang untuk berkembang manjadi orang macam tertentu (some special kind of man).
1. Latar Balakang Filsafat Tiongkok
Banyak
aspek yang melatarbelakangi pemikiran filsafat Tiongkok, seperti aspek-aspek
geografis, ekonomi, sikap terhadap alam, sistem kekerabatan dan lainnya.
Tiongkok adalah suatu negeri daratan (continental) yang luas sekali, tidak
pernah melihat lautan. Berbeda dengan Yunani yang merupakan negeri maritime,
rakyatnya mengandalkan pertanian. Sebagai negeri agraris yang selalu
mengandalkan potensi atau hasil tanahnya. Hal ini dibuktikan bahwa keunggulan
kerajaan Tiongkok kuno ditentukan oleh keahlian bertani dan berperang, seperti
kerajaan Chin pada abad ke-4 SM, yang untuk pertama kalinya dapat mempersatukan
daratan Tiongkok.
Dalam
tradisi Tiongkok, jenis pekerjaan yang mendapat tempat terhormat adalah
menuntut ilmu (belajar) dan mengolah tanah (bertani). Jenis pekerjaan ini akan
memengaruhi sikap mereka terhadap alam dan pandangan hidupnya. Para petani
mempunyai sifat khusus “kesederhanaan”, dan mereka selalu menerima dan mematuhi
perintah. Mereka pun tidak pernah mementingkan dirinya sendiri. Sifat-sifat
yang demikian inilah yang menjelma dalam sikap hidupnya.
Akar
atau sumber alam pikiran rakyat Tiongkok adalah Taoisme dan Confucianisme.
Taoisme adalah pandangan hidup yang menitik beratkan pada hal-hal yang sifatnya
naturalistic yang berada dalam diri manusia. Sementara itu, Confucianisme
adalah suatu pandangan hidup yang menitikberatkan pada organisasi social dan
menekankan kepada tanggung jawab manusia terhadap masyarakat. Sebagai contoh:
-
Fajar telah menyingsing;
-
Jangan seklai-kali berlebih-lebihan;
-
Bilamana matahari telah mencapai puncaknya;
-
Maka turunlah ia;
-
Dan bilamana bulan sudah purnama;
-
Maka mengecillah ia;
Dalam bidang kesenian, rakyat
Tiongkok menganggap bahwa kesenian merupakan alat untuk pendidikan moral.
Terbukti adanya lukisan-lukisan Tiongkok yang tergolong kelas utama, selalu
menggambarkan pemandangan-pemandangan dan bunga-bunga, pohon-pepohonan, atau
orang yang sedang duduk di pinggir sungai atau gunung.
Keadaan
rakyat Tiongkok yang agraris ini berpengaruh pada metode filsafatnya. Terdapat
dua macam konsep, yaitu metedo yang dicapai lewat intuisi dan lewat hipotesis.
Bahasa yang digunakan dalam pemikiran filsafat adalah sugestif, artinya isi
pemikirannya tidak tegas, hanya mengandung saran-saran.
2. Sentuhan dengan Filsafat Barat
Orang
Barat menamakan Tiongkok sebagai negeri Timur jauh. Sebaliknya orang Tiongkok
menganggap kebudayaan lain adalah salah atau tidak setinggi dengan kebudayaan
yang dimilikinya. Semua orang asing disebutnya orang Barbar sehingga
menimbulkan rasa nasionalismenya sangat tinggi.
Pada
akhir Dinasti Ming (abad ke-14), banyak pelajar Tiongkok yang mengagumi
matematika dan astronomi, yang dibawa dari Barat oleh kaum misionaris Kristen
sehingga banyak pelajar yang masuk menjadi misionaris.
Pada
abad ke-19, karena keunggulan militer, industri, dan perdagangan barat,
kebetulan bersamaan dengan krisis politik dalam negeri, timbullah sengketa
antara Tiongkok dengan orang misionaris. Akibatnya, muncul gerakan untuk
kembali kepada ajaran Confusius. Pelopornya adalah K’ang Yu Mei (1858 - 1927).
Setelah terjadi pergolokan, ia melarikan diri ke luar negeri.
Pada
abad ke 20 perkembangan kaum Kristen semakin pesat karena didorong oleh
masuknya ilmu pengetahuan modern. Mempengaruhi jatuhnya Dinasti Ming, dan
diganti dengan sistem pemerintah republik (tahun 1912).
Yen Fu (1853 - 1920)
Yen
Fu (1853 - 1920) oleh penguasa Tiongkok dikirim untuk belajar ilmu perkapalan
ke Inggris. Abanyak ilmu yang didapatkannya, termasuk literatur-literatur
tentang humaniora, kemudian banyak yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Tiongkok
(Cina).
Pada
tahun 1919 John Dewey dan Bertrand Russell diundang ke Tiongkok untuk memberikan
ceramahnya di Universitas Peking (Beijing), sekaligus memberikan pandangan
intelektualnya. Hal ini diharapkan dapat disumbangkan (sebagai sumbangan barat)
terhadap pemikiran filsafat Tiongkok. Sumbangan tersebut berupa metode analisis
yang berdasarkan logika (metode positif). Metode positif tersebut akan dapat
memberikan cara berpikir yang baru tehadap pemikiran filsafat.
Sampai
sekarang, sentuhan rakyat Barat yang telah membekas adalah adanya studi
filsafat Tiongkok.
3. Aliran-lairan Pemikiran Filsafat
di Tiongkok
Di
Tiongkok terdapat dua aliran yang mendominasi pemikiran rakyatnya, yaitu
Confusianisme dan Taoisme.
Confusianisme
Confusianisme
dipelopori oleh K’ung Fu Tzu (551 – 479 SM), lahir di Shantung. Riwayat
hidupnya dapat diketahui lewat penuturan sebuah buku Lun-yu (pembicaraan). Ia
keturunan bangsawan misin. Umur 22 tahun mendirikan sekolah. Umur 51 tahun
menjadi gubernur di Tsyung, kemudian diangkat menjadi menteri kehakiman. Umur
73 tahun mendirikan mazhab sampai ia meninggal dunia. Dia dianggap sebagai guru
kesusilaan bangsa Cina.
Pemikirannya,
suatu hal yang dipentingkan oleh K’ung Fu Tze adalah ritual dan harus menguasai
aspek keagamaan dan social. Ia mengatakan, bahwa hendaknya raja tetap raja,
hamba tetap hamba, ayah tetap ayah, anak tetap anak. Apabila sikap setiap orang
sesuai dengan statusnya, maka akan lahir kesadaran akan “hak, dan kewajiban”.
Sistem kekerabatan harus didasarkan pada syian, yaitu suatu perasaan
keterikatan terhadap orang-orang yang menurunkannya. Aspek inilah yang
menjadikan budaya Tiongkok tetap terwariskan.
Taoisme
Pendiri
Taoisme adalah Lao Tze lahir tahun 604 SM. Riwayat hidupnya hanya sedikit saja
diketahui, tetapi ajarannya berpengaruh besar dalam masyarakat Tiongkok. Dalam
arti yang luas, Tao berarti jalan yang dilalui kejadian-kejadian alam dengan
daya cita yang timbul dengan sendirinya ditambah selingan-selingan yang
teratur. Misalnya, siang dan malam.
Semua
orang yang mengikuti Tao harus melepaskan semua usaha. Tujuan tinggi adalah
meloloskan diri dari khyalan keinginan dengan renungan secara gaib.
Pemikirannya,
orang hendaknya memberikan kasih sayangnya tidak hanya terbatas pada para
anggota keluarganya saja, tetapi harus kepada seluruh anggota keluarga yang
lain. Peperangan dan upacara ritual dengan pengeluaran biaya tinggi yang akan
merugikan rakyat merupakan suatu yang bertentangan dengan dasar kecintaan
manusia sehingga harus dicela. Kalau kita sayang kepada orang lain, orang lain
juga akan sayang kepada kita, dan kita tidak perlu takut akan kejahatan orang
lain.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar